Seorang mukmin berjalan di sebuah taman. Ia terpesona dengan keindahan taman
yang merupakan kenikmatan Allah. Sesungguhnya, bagi yang sudi merenung, pada
setiap benda hidup terdapat kebesaran-Nya.
Sebagai contoh, tanaman merambat yang melingkarkan tubuhnya mengelilingi
sebuah dahan atau benda lain, merupakan fenomena yang perlu dipikirkan secara
seksama. Jika pertumbuhan tanaman ini direkam dan dipertunjukkan ulang dengan
cepat, akan terlihat bahwa tanaman merambat ini bergerak seolah-olah ia adalah
makhluk yang memiliki kesadaran. Ia seolah-olah melihat dahan yang berada tepat
di hadapannya, lalu ia mengulurkan dirinya ke arah dahan tersebut dan
mengikatkan diri ke dahan seperti tali lasso.
Seorang mukmin yang menyaksikan semua ini kembali sadar bahwa Allah telah
menciptakan semua benda hidup, dan bahwa Dia menciptakannya sebagai sistem yang
unik dan tanpa cacat.
Ketika seseorang terus mengamati gerakan-gerakan tanaman ini, ia menemukan
satu ciri menarik lain dari tumbuhan tersebut. Ia melihat bahwa batang tanaman
merambat tersebut dengan kuat melekatkan dirinya di atas permukaan dimana ia
berada dengan menjulurkan lengan-lengan sampingnya. Bahan yang kental yang
diproduksi oleh tanaman yang tidak memiliki kesadaran tersebut merekat
sedemikian kuat sehingga ketika tanaman ini dicoba untuk dipindahkan dengan cara
menariknya dari tempat ia berada, maka cat yang ada ditembok akan ikut terangkat
juga.
Begitupun dengan pepohonan. Pernahkan kita memikirkan bagaimana air mencapai
dedaunan yang tinggi? Tidaklah mungkin bagi air dalam sebuah tanki di bagian
bawah bangunan anda untuk naik ke lantai yang lebih atas tanpa adanya sebuah
tanki hidroforik atau mesin pompa air yang kuat. Anda tidak akan mampu memompa
air kendatipun hanya sampai ke lantai pertama. Oleh karena itu, sudah seharusnya
ada sistem pemompaan yang mirip dengan mesin hidrofonik yang dimiliki oleh
pohon.
Allah telah menciptakan untuk tiap-tiap pohon semua sarana dan perlengkapan
yang diperlukan. Tambahan lagi, sistem pemompaan di setiap pohon terlalu canggih
dibandingkan dengan yang ada di bangunan tempat tinggal manusia.
Hal lain yang dapat dipikirkan berhubungan dengan dedaunan. Dedaunan itu
sesungguhnya bukan bentuk sederhana seperti yang terlihat mata. Dedaunan,
misalnya, adalah sesuatu yang rentan dan mudah rusak. Namun, daun-daun ini tidak
kering kerontang karena panasnya terik sinar matahari yang menyengat. Ketika
seorang manusia berada pada suhu 40oC dalam waktu yang sebentar, warna kulitnya
berubah, ia menderita dehidrasi. Sebaliknya, daun mampu untuk tetap hijau di
bawah panas matahari yang menyengat tanpa terbakar selama berhari-hari, bahkan
berbulan-bulan meskipun sangat sedikit sekali jumlah air yang mengalir melalui
pembuluh-pembuluhnya yang mirip benang. Ini adalah sebuah keajaiban penciptaan
yang menunjukkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan ilmu yang tak
tertandingi.
Begitulah, ketika menyusuri taman, kita memahami semua itu merupakan
perwujudan sifat-Nya Yang Maha Indah (Al-Jamaal). Lihatlah: bunga daisy yang
menguning. Kupu-kupu dengan ekornya yang indah meliuk di sela bunga.
Kupu-kupu, misalnya, adalah makhluk yang sangat indah dan elok untuk dilihat.
Kupu-kupu, yang memiliki sayap dengan simetri dan disain semacam renda yang
demikian teliti sehingga terlihat seolah-olah dilukis dengan tangan, dengan
warna yang harmoni dan dipenuhi fosfor sehingga berpendar, adalah bukti daya
seni yang tak tertandingi dari ciptaan Allah.
Banyaknya jenis tanaman dan pohon yang tak terhitung di muka bumi merupakan
bagian dari keindahan ciptaan Allah. Bunga-bunga dengan warna yang
beraneka-ragam dan berbagai bentuk pepohonan telah diciptakan sedemikian rupa
sehingga memberikan kenyamanan bagi manusia.
Seseorang yang memiliki keimanan akan berpikir bagaimana bunga seperti mawar,
violet, daisy, hyacinth, anyelir, anggrek dan bunga-bunga lainnya memiliki
permukaan yang sedemikian mulus, bagaimana mereka muncul dari biji-biji mereka
dalam keadaan yang halus sama sekali tanpa ada lipatan-lipatan, bagaikan telah
disetrika.
Satu lagi keajaiban ciptaan Allah adalah aroma sedap yang menakjubkan dari
bunga-bunga ini. Mawar, misalnya, memiliki wangi yang tidak pernah berubah yang
selalu dikeluarkannya. Bahkan dengan teknologi paling maju sekalipun, bau yang
menyamai mawar tidak dapat dibuat.
Penelitian di laboratorium-laboratorium untuk menyerupai bau ini belum
mendatangkan hasil yang memuaskan. Aroma parfum yang diproduksi dengan meniru
bau mawar pada umumnya memiliki bau harum yang sedemikian kuat sehingga
mengganggu orang. Tetapi bau asli dari bunga mawar tidak menimbulkan gangguan
apapun bagi manusia.
Orang yang beriman sadar bahwa segala sesuatu ini diciptakan
Allah agar ia memuji-Nya. Sadar akan hal ini, seseorang yang menyaksikan
keindahan kebun ketika sedang berjalan-jalan akan mengagungkan Allah seraya
mengatakan, ''Maa syaa Allahu, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak
Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)''
(QS. Al-Kahfi, 18: 39).
Sumber : info@harunyahya.com
Label: Artikel Islam
Nama Para Nabi Tertulis dalam Prasasti Ebla, 1500 Tahun Lebih Tua daripada Taurat
0 komentar Diposkan oleh Unknown di 18:07
Berasal dari masa sekitar 2500 SM, prasasti Ebla memberikan keterangan
teramat penting mengenai sejarah agama-agama. Sisi terpenting mengenai prasasti
Ebla, yang ditemukan para ahli arkeologi pada tahun 1975 dan yang sejak itu
telah menjadi pokok bahasan dari banyak penelitian dan perdebatan, adalah
terdapatnya nama tiga orang nabi yang disebutkan dalam kitab-kitab suci.
Penemuan prasasti Ebla setelah ribuan tahun dan informasi yang dikandungnya
sungguh sangat penting dari sudut pandang perannya dalam memperjelas letak
geografis kaum-kaum yang disebutkan dalam Al Qur'an.
Sekitar 2500 SM, Ebla adalah sebuah kerajaan yang meliputi suatu wilayah yang
di dalamnya termasuk ibukota Syria, Damaskus, dan Turki bagian tenggara.
Kerajaan ini mencapai puncak kejayaan di bidang kebudayaan dan ekonominya, namun
setelah itu, sebagaimana yang menimpa banyak peradaban besar, menghilang dari
panggung sejarah. Tampak dari catatan yang terawetkan tersebut bahwa Kerajaan
Ebla merupakan pusat utama kebudayaan dan perdagangan di masanya.(1) Penduduk Ebla
memiliki sebuah peradaban yang membangun lembaga-lembaga arsip negara,
mendirikan perpustakaan-perpustakaan dan mencatat aneka perjanjian perdagangan
secara tertulis. Mereka bahkan memiliki bahasa mereka sendiri, yang disebut
sebagai Eblaite.
Sejarah
Agama-Agama Zaman Dahulu
Peran penting sesungguhnya Kerajaan Ebla, yang dianggap sebagai sebuah
keberhasilan besar bagi arkeologi klasik ketika pertama kali ditemukan di tahun
1975, mengemuka dengan ditemukannya sekitar 20.000 prasasti dan penggalan
tulisan paku. Naskah ini empat kali lebih banyak daripada seluruh naskah
bertulisan paku yang diketahui para arkeolog selama 3.000 tahun terakhir.
Ketika bahasa yang digunakan dalam prasasti-prasasti tersebut diterjemahkan
oleh seorang berkebangsaan Italia Giovanni Pettinato, penerjemah naskah-naskah
kuno dari Universitas Roma, nilai penting prasasti tersebut semakin dipahami.
Alhasil, penemuan Kerajaan Ebla dan kumpulan naskah negara yang luar biasa
tersebut tidak hanya menarik perhatian di bidang arkeologi, tapi juga bagi
kalangan agamawan. Hal ini dikarenakan selain nama-nama seperti Mikail
(Mi-ka-il) dan Thalut (Sa-u-lum), yang berperang bersama Nabi Dawud,
prasasti-prasasti ini juga menuliskan nama-nama nabi yang disebutkan di dalam
tiga kitab suci: Nabi Ibrahim (Ab-ra-mu), Nabi Dawud (Da-u-dum) dan Nabi Ismail
(Ish-ma-il). (2)
Pentingnya
Nama-Nama yang Disebut dalam Prasasti Ebla
Nama para nabi yang ditemukan dalam prasasti Ebla memiliki nilai teramat
penting karena ini adalah kali pertama nama-nama tersebut dijumpai dalam naskah
bersejarah setua itu. Informasi ini, yang berasal dari zaman 1500 tahun sebelum
Taurat, sangatlah mengejutkan. Kemunculan nama Nabi Ibrahim di dalam prasasti
tersebut menyatakan secara tertulis bahwa Nabi Ibrahim dan agama yang dibawanya
telah ada sebelum Taurat.
Para sejarawan mengkaji prasasti Ebla dari sudut pandang ini, dan penemuan
besar tentang Nabi Ibrahim dan misi yang diembannya menjadi bahan penelitian
dalam kaitannya dengan sejarah agama-agama. David Noel Freedman, arkeolog dan
peneliti Amerika mengenai sejarah agama-agama, melaporkan berdasarkan
penelitiannya nama-nama nabi seperti Ibrahim dan Ismail di dalam prasasti
tersebut. (3)
Nama-Nama Lain di
dalam Prasasti
Sebagaimana disebutkan di atas, nama-nama yang ada di dalam prasasti adalah
nabi-nabi yang disebutkan di dalam tiga kitab suci, dan prasasti tersebut jauh
lebih tua daripada Taurat. Selain nama-nama ini terdapat pula hal-hal lain dan
nama-nama tempat di dalam prasasti tersebut, yang dengannya dapat diketahui
bahwa penduduk Ebla adalah para pedagang yang sangat berhasil. Nama Sinai, Gaza
dan Yerusalem, yang tidak terlalu jauh letaknya dari Ebla, juga terdapat di
dalam tulisan tersebut, yang menunjukkan bahwa penduduk Ebla memiliki hubungan
yang sangat baik dengan tempat-tempat tersebut di bidang perdagangan dan
kebudayaan. (4)
Satu rincian penting yang diketahui dari prasasti tersebut adalah nama-nama
wilayah seperti Sodom dan Gomorrah, tempat berdiamnya kaum Luth. Diketahui bahwa
Sodom dan Gomorrah adalah sebuah wilayah di pesisir Laut Mati tempat bermukimnya
kaum Luth dan tempat di mana Nabi Luth mendakwahkan risalahnya dan menyeru
masyarakat untuk hidup mengikuti nilai-nilai ajaran agama. Selain dua nama ini,
kota Iram, yang tercantum di dalam ayat-ayat Al Qur'an, juga di antara yang
tersebut di dalam prasasti Ebla.
Sisi paling penting untuk dicermati dari nama-nama ini adalah bahwa selain
dari naskah-naskah yang disampaikan oleh para nabi, nama-nama tersebut belum
pernah muncul di dalam naskah mana pun sebelumnya. Ini adalah bukti tertulis
penting yang menunjukkan bahwa para nabi yang medakwahkan risalah satu agama
yang benar di masa itu telah mencapai wilayah-wilayah tersebut. Dalam sebuah
tulisan di majalah Reader's Digest, tercatat di masa itu bahwa terdapat
pergantian agama dari penduduk Ebla selama masa pemerintahan Raja Ebrum dan
bahwa masyarakat mulai menambahkan imbuhan di depan nama-nama mereka dalam
rangka meninggikan nama Tuhan Yang Mahakuasa.
Janji Allah
Adalah Benar…
Sejarah Ebla dan prasasti Ebla yang ditemukan setelah 4.500 tahun
sesungguhnya mengarahkan kepada satu kebenaran yang teramat penting: Allah telah
mengirim utusan-utusan kepada penduduk Ebla, sebagaimana yang Dia lakukan ke
setiap kaum, dan para utusan ini menyeru kaum mereka kepada agama yang
benar.
Sebagian orang memeluk agama yang sampai kepada mereka sehingga mereka berada
di jalan yang benar, sedangkan yang lain menentang risalah para nabi dan lebih
memilih kehidupan yang nista. Tuhan, Penguasa langit dan bumi, dan segala
sesuatu di antara keduanya, mewahyukan kenyataan ini dalam Al Qur'an:
وَلَقَدْ
بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُوا
فِي الأرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (٣٦)
Dan sungguhnya Kami telah
mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja),
dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi
petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti
kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah
bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. An Nahl,
16: 36)
Daftar pustaka:
1) "Ebla", Funk & Wagnalls New Encyclopaedia, © 1995 Funk & Wagnalls Corporation, Infopedia 2.0, SoftKey Multimedia Inc.
2) Howard La Fay, "Ebla: Splendour of an Unknown Empire," National Geographic Magazine, December 1978, h. 736; C. Bermant and M. Weitzman, Ebla: A Revelation in Archaeology, Times Books, 1979, Wiedenfeld and Nicolson, Great Britain, h. 184.
3) Bilim ve Teknik magazine (Science and Technology), No. 118, September 1977 and No. 131 October 1978
4) For detailed information, please see Harun Yahya's Miracles of the Qur'an.
1) "Ebla", Funk & Wagnalls New Encyclopaedia, © 1995 Funk & Wagnalls Corporation, Infopedia 2.0, SoftKey Multimedia Inc.
2) Howard La Fay, "Ebla: Splendour of an Unknown Empire," National Geographic Magazine, December 1978, h. 736; C. Bermant and M. Weitzman, Ebla: A Revelation in Archaeology, Times Books, 1979, Wiedenfeld and Nicolson, Great Britain, h. 184.
3) Bilim ve Teknik magazine (Science and Technology), No. 118, September 1977 and No. 131 October 1978
4) For detailed information, please see Harun Yahya's Miracles of the Qur'an.
Sumber : info@harunyahya.com
Label: Artikel Islam
Nyamuk, hewan kecil itu memang nakal karena selalu mengganggu manusia yang
terlelap tidur di malam hari. Namun adakah yang pernah berpikir bahwa ternyata
seekor makhluk kecil yang seringkali merepotkan manusia itu merupakan suatu
contoh akan kesempurnaan desain dalam penciptaan?
Sejak ia bertelur, nyamuk sudah menunjukkan kehebatannya. Dia dengan
sendirinya bertelur dalam jumlah ratusan butir yang kesemuanya menyatu hingga
menyerupai bentuk sampan. Sampan, karena memang telur tersebut diletakkan di
atas permukaan air dan harus dapat mengapung. Seandainya ia bertelur satu
persatu, tentunya telur itu akan tenggelam oleh riak air yang kecil
sekalipun.
Tentu kita semua tahu, sang nyamuk mengawali kehidupannya dengan hidup di
bawah permukaan air. Untuk bernapas ia menggunakan alat menyerupai pipa
“snorkel” (biasa digunakan penyelam) yang berada di ujung tubuhnya. Dengan
demikian ia dapat menghirup udara di atas permukaan air dan terus melangsungkan
siklus hidupnya. Namun tantangan yang dihadapi belum berhenti. Untuk keluar dari
air lalu terbang, juga memerlukan usaha yang tidak mudah, karena bila saja
tubuhnya basah, maka ia tidak akan dapat terbang! Bayangkan, ternyata di ujung
kakinya terdapat suatu senyawa kimia yang mampu meningkatkan tegangan permukaan
air. Sehingga ketika keluar dari kepompongnya dan berdiri di atas permukaan air
dengan kaki-kakinya, ia tidak terperosok dan tidak tenggelam.
Tidak sampai di situ. Agar nyamuk betina dapat menghisap darah, ia harus
mampu mengenali lokasi pembuluh darah manusia di kegelapan malam. Untuk ini ia
telah dilengkapi dengan sistem pengindraan inframerah yang mampu menemukan
lokasi pembuluh darah berdasarkan suhu tubuh.
Untuk bisa menembus kulit manusia sehingga mudah dalam menyedot darahnya, ia
juga memiliki organ khusus yang disiapkan oleh Penciptanya. Organ itu berfungsi
layaknya gergaji yang menggergaji kulit kita sehingga sobek. Sebab kulit manusia
bagaikan kulit kayu yang tebal dan keras bagi nyamuk, hewan berukuran teramat
kecil dibanding tubuh manusia. Juga, agar darah yang keluar tidak membeku, maka
nyamuk juga telah menggunakan suatu enzim yang mencegah pembekuan darah.
Perhatikan, walau si kecil nyamuk tampak demikian jenius, namun ia tetaplah
seekor nyamuk yang tak dapat berpikir untuk memperbaiki kualitas hidup. Ia
tetaplah bukan profesor kimia maupun fisika atau bahkan dokter spesialis
tranfusi darah sebelum ia dapat melakukan “tugasnya” keluar dari air untuk
terbang dan menghisap darah manusia. Ia tetaplah seekor makhluk kecil yang
diciptakan oleh Dzat Yang Maha Pencipta sebagai perumpamaan bagi kita agar mau
berpikir.
إِنَّ اللَّهَ لا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلا
مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ
مِنْ رَبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا
مَثَلا يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلا الْفَاسِقِينَ
(٢٦)
Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa
nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka
mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang
kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk
perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan
dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak
ada yang disesatkan Allah kecuali orangorang yang fasik (QS. Al Baqarah,
2:26)
Sumber : www.insight-magazine.com/edisi-1
Sumber : www.insight-magazine.com/edisi-1
Label: Artikel Islam
Assalamu'alaikum wr. wb.
syukur alhamdulillah akhirnya saya menemukan juga situs yang selama ini saya butuhkan untuk lebih mendalami lagi ajaran agama Islam. Selama ini saya mempunyai masalah dalam jiwa saya mengenai Tauhid ke islaman saya. Untuk itu pada kesempatan ini saya ingin mencoba menanyakan beberapa hal mengenai tauhid dalam agama Islam antara lain: 1. Apa yang ada dalam pikiran Anda ya akhi jika Anda mengucapkan Lapadz ALLAH? 2. Saya mempunyai masalah dengan jiwa saya yaitu ketika saya mengucapkan lapadz ALLAH secara otomatis dalam pikiran dan benak saya itu ada yang membisikan dan menggambarkan mengenai wujud ALLAH itu. Demi ALLAH ya akhi saya tidak tahu semua itu berasal dari mana??? Tapi saya yakin semua itu berasal dari setan laknatullah. Saya sungguh tidak mengerti...akhir--akhir ini saya sering bermimipi mengenai...alam akhiratnya ALLAH misalnya saya bertemu dengan Nabi, bercakap-cakap dengan malaikat, bahkan suatu malam saya pernah di ajak untuk bertemu dengan ALLAH...Subhanallah. Ya akhi saya bingung dengan semua masalah yang ada dalam diri saya ini dan semua itu sangat mengganggu jiwa saya ketika beribadah. karena bayangan mengenai wujud ALLAH itu selalu saja muncul ketika saya mengucapakan lapadz ALLAH. Mohon bimbingannya dan apa yang harus saya lakukan untuk menghilangkan bayangan mengenai wujud ALLAH itu karena saya takut termasuk orang orang yang MUSYRIK..Naudzubillah summa naudzubillah. Saya mohon bimbingannya...dan solusi dari masalah ini. Wassalam...
syukur alhamdulillah akhirnya saya menemukan juga situs yang selama ini saya butuhkan untuk lebih mendalami lagi ajaran agama Islam. Selama ini saya mempunyai masalah dalam jiwa saya mengenai Tauhid ke islaman saya. Untuk itu pada kesempatan ini saya ingin mencoba menanyakan beberapa hal mengenai tauhid dalam agama Islam antara lain: 1. Apa yang ada dalam pikiran Anda ya akhi jika Anda mengucapkan Lapadz ALLAH? 2. Saya mempunyai masalah dengan jiwa saya yaitu ketika saya mengucapkan lapadz ALLAH secara otomatis dalam pikiran dan benak saya itu ada yang membisikan dan menggambarkan mengenai wujud ALLAH itu. Demi ALLAH ya akhi saya tidak tahu semua itu berasal dari mana??? Tapi saya yakin semua itu berasal dari setan laknatullah. Saya sungguh tidak mengerti...akhir--akhir ini saya sering bermimipi mengenai...alam akhiratnya ALLAH misalnya saya bertemu dengan Nabi, bercakap-cakap dengan malaikat, bahkan suatu malam saya pernah di ajak untuk bertemu dengan ALLAH...Subhanallah. Ya akhi saya bingung dengan semua masalah yang ada dalam diri saya ini dan semua itu sangat mengganggu jiwa saya ketika beribadah. karena bayangan mengenai wujud ALLAH itu selalu saja muncul ketika saya mengucapakan lapadz ALLAH. Mohon bimbingannya dan apa yang harus saya lakukan untuk menghilangkan bayangan mengenai wujud ALLAH itu karena saya takut termasuk orang orang yang MUSYRIK..Naudzubillah summa naudzubillah. Saya mohon bimbingannya...dan solusi dari masalah ini. Wassalam...
Jawaban:
Dalam segala keadaan, kita haruslah selalu memohon petunjuk kepada Allah dan perlindungan dari bahaya dan godaan setan. Sebab, makhluk jahat yang satu ini (setan) akan senantiasa berusaha menggoda dan menyesatkan manusia. Dia akan datang dari depan, belakang, samping kanan, samping kiri, dan dari segala arah yang mungkin dia tembus. Satu cara gagal, dia akan mengupayakan cara-cara yang lain yang lebih jitu. Maka, tak sedikit orang yang terjerumus ke dalam jebakan setan ini, kecuali orang-orang yang dilindungi dan dirahmati Allah.
Kami ingin bertanya kepada Anda, tahukah Anda siapa sebenarnya Allah itu? Jika Anda berhasil menjawab pertanyaan ini dengan benar sesuai dengan petunjuk Islam, insya Allah akan mempermudah dalam menyelesaikan permasalahan yang Anda hadapi.
Bisikan yang ada dalam jiwa Anda akan bayangan dan gambaran Allah itu adalah suatu godaan. Ketika itu hendaklah Anda langsung beristighfar dan meminta perlindungan kepada Allah dari godaan setan. Sebab, sebagai hamba-Nya kita dituntuk untuk mengabdi kepada Allah, meyakini akan kebesaran, keagungan, dan ketinggian serta kemulyaan sifat-sifat Allah dan tidak boleh membayangkan tentang bagaimana zat ataupun wujud Allah. Ini adalah diluar batas tanggung jawab kita sebagai hamba dan di luar jangkauan kemampuan kita.
Yang diperintahkan bagi kita adalah menghayati dan merenungi tanda-tanda kebesaran-Nya berupa makhluk-makhluk dan semua penciptaannya juga ayat-ayat berupa firman Allah (Alquran).
Begitu juga tentang mimpi-mimpi. Terkadang setan mendatangi manusia melalui mimpi-mimpi. Tak jarang kaum sufi yang tersesat hanya karena mengikuti mimpi-mimpi yang datangnya tak jelas dari mana yang kemungkinan datangnya dari setan. Mengenai mimpi Anda bertemu dengan Rasulullah saw. itu mungkin saja karena setan tak mungkin bisa menyerupai Rasulullah saw.. Namun, syaratnya Anda harus faham benar ciri-ciri Rasulullah sebagaimana yang diterangkan dalam hadis-hadis yang sahih. Jika Anda sudah mempunyai gambaran tentang ciri-ciri dan karakter Rasulullah saw. berdasarkan sumber yang jelas, kemudian Anda melihatnya dalam mimpi sesuai dengan ciri-ciri yang Anda ketahui tersebut, kemungkinan mimpi itu adalah benar. Jika tidak, bisa jadi setan telah berusaha mengelincirkan Anda –semoga Allah melindungi kita – sebagaimana yang terjadi di banyak kalangan ahli tasawuf yang hanya mengikuti wangsit dan mimpi-mimpi yang membisikkan hal-hal yang bertentangan dengan Islam.
Dekatkan diri Anda kepada Allah, lakukanlah terapi penyucian hati seperti; baca Alquran dengan rutin, salat tahajjud, puasa sunnah, banyak berzikir, dan hanya berinteraksi dengan orang-orang saleh saja.
Melihat Allah adalah suatu keniscayaan dan itu merupakan janji Allah untuk orang-orang beriman dan merupakan kenikmatan yang paling agung. Namun, hal itu pada hari kiamat.
Jika godaan itu datang, seperti bayangan akan wujud Allah itu tiba-tiba datang, segeralah Anda berta'awudz (meminta perlindungan kepada Allah). Dan dianjurkan supaya Anda selalu dalam keadaan suci (berwudu). Karena jika Anda biarkan keadaan seperti ini berlarut-larut, dikhawatirkan Anda akan terkena jebakan setan berupa penyakit was-was. Kita mohon perlindungan Allah darinya. Wallahu a'lam.
Dalam segala keadaan, kita haruslah selalu memohon petunjuk kepada Allah dan perlindungan dari bahaya dan godaan setan. Sebab, makhluk jahat yang satu ini (setan) akan senantiasa berusaha menggoda dan menyesatkan manusia. Dia akan datang dari depan, belakang, samping kanan, samping kiri, dan dari segala arah yang mungkin dia tembus. Satu cara gagal, dia akan mengupayakan cara-cara yang lain yang lebih jitu. Maka, tak sedikit orang yang terjerumus ke dalam jebakan setan ini, kecuali orang-orang yang dilindungi dan dirahmati Allah.
Kami ingin bertanya kepada Anda, tahukah Anda siapa sebenarnya Allah itu? Jika Anda berhasil menjawab pertanyaan ini dengan benar sesuai dengan petunjuk Islam, insya Allah akan mempermudah dalam menyelesaikan permasalahan yang Anda hadapi.
Bisikan yang ada dalam jiwa Anda akan bayangan dan gambaran Allah itu adalah suatu godaan. Ketika itu hendaklah Anda langsung beristighfar dan meminta perlindungan kepada Allah dari godaan setan. Sebab, sebagai hamba-Nya kita dituntuk untuk mengabdi kepada Allah, meyakini akan kebesaran, keagungan, dan ketinggian serta kemulyaan sifat-sifat Allah dan tidak boleh membayangkan tentang bagaimana zat ataupun wujud Allah. Ini adalah diluar batas tanggung jawab kita sebagai hamba dan di luar jangkauan kemampuan kita.
Yang diperintahkan bagi kita adalah menghayati dan merenungi tanda-tanda kebesaran-Nya berupa makhluk-makhluk dan semua penciptaannya juga ayat-ayat berupa firman Allah (Alquran).
Begitu juga tentang mimpi-mimpi. Terkadang setan mendatangi manusia melalui mimpi-mimpi. Tak jarang kaum sufi yang tersesat hanya karena mengikuti mimpi-mimpi yang datangnya tak jelas dari mana yang kemungkinan datangnya dari setan. Mengenai mimpi Anda bertemu dengan Rasulullah saw. itu mungkin saja karena setan tak mungkin bisa menyerupai Rasulullah saw.. Namun, syaratnya Anda harus faham benar ciri-ciri Rasulullah sebagaimana yang diterangkan dalam hadis-hadis yang sahih. Jika Anda sudah mempunyai gambaran tentang ciri-ciri dan karakter Rasulullah saw. berdasarkan sumber yang jelas, kemudian Anda melihatnya dalam mimpi sesuai dengan ciri-ciri yang Anda ketahui tersebut, kemungkinan mimpi itu adalah benar. Jika tidak, bisa jadi setan telah berusaha mengelincirkan Anda –semoga Allah melindungi kita – sebagaimana yang terjadi di banyak kalangan ahli tasawuf yang hanya mengikuti wangsit dan mimpi-mimpi yang membisikkan hal-hal yang bertentangan dengan Islam.
Dekatkan diri Anda kepada Allah, lakukanlah terapi penyucian hati seperti; baca Alquran dengan rutin, salat tahajjud, puasa sunnah, banyak berzikir, dan hanya berinteraksi dengan orang-orang saleh saja.
Melihat Allah adalah suatu keniscayaan dan itu merupakan janji Allah untuk orang-orang beriman dan merupakan kenikmatan yang paling agung. Namun, hal itu pada hari kiamat.
Jika godaan itu datang, seperti bayangan akan wujud Allah itu tiba-tiba datang, segeralah Anda berta'awudz (meminta perlindungan kepada Allah). Dan dianjurkan supaya Anda selalu dalam keadaan suci (berwudu). Karena jika Anda biarkan keadaan seperti ini berlarut-larut, dikhawatirkan Anda akan terkena jebakan setan berupa penyakit was-was. Kita mohon perlindungan Allah darinya. Wallahu a'lam.
Sumber : www.Alislam.or.id
Label: Tanya Jawab Islam
Pertanyaan:
Assalamualaikum wr. wb.
saya minta tolong dikirim data tentang hari-hari yang disunahkan berpuasa beserta tanggal dan keutamaannya. Demikian, terima kasih.
Jawaban:
saya minta tolong dikirim data tentang hari-hari yang disunahkan berpuasa beserta tanggal dan keutamaannya. Demikian, terima kasih.
Jawaban:
Puasa-puasa yang disunahkan adalah:
1. Puasa arafah bagi yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji. Yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah. "Puasa di hari arafah, menghapus dosa dua tahun, setahun yang silam dan setahun yang akan datang." (HR Muslim).
2. Puasa asyura dan tasu'a. Yaitu dihari ke sembilan dan sepuluh bulan Muharam (asyura). "Dan puasa Asyura itu menghapus dosa setahun yang telah lalu." (HR Muslim). Tentang puasa tasu'a, pada setahun sebelum beliau meninggal beliau bersabda, "Pada tahun depan insya Allah kita berpuasa pada hari ke sembilan."
3. Puasa enam hari di bulan Syawal "Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dan meneruskannya di bulan enam hari di bulan Syawal, maka seperti berpuasa sepanjang tahun." (HR Muslim).
4. Puasa di bulan Sya'ban. "Aisyah berkata, 'Aku tidak pernah melihat beliau (Rasulullah saw.) lebih banyak berpuasa kecuali di bulan Sya'ban." (HR Muslim)
5.sepuluh pertama bulan Dzulhijjah, berdasarkan hadis Bukhari dan Muslim yang menerangkan bahwa tidak ada hari-hari yang amal shaleh lebih dicintai di dalamnya dari pada hari-hari sepuluh Dzul hijjah.
6. Puasa hari-hari putih, yaitu pada tanggal 13.14. 15 pada setiap bulan hijriah. Puasa hari tersebut seperti puasa sepanjang tahun (sesuai dengan HR Nasa'i).
7. Puasa hari Senin dan Kamis "Sesungguhnya amal perbuatan diperlihatkan setiap hari Senin dan Kamis, kemudian Allah mengampuni setiap orang muslim atau orang mukmin kecuali dua orang yang saling mendiamkan. Allah berfirman, ' Tundalah pengampunan mereka berdua'." (HR. Ahmad).
8. Puasa Dawud, sehari puasa sehari tidak. Puasa sunah yang paling baik dan paling dicintai Allah.
9. Puasa bujangan yang belum mampu nikah. "Wahai para pemuda, Barang siapa mampu untuk menikah, maka hendaklah segera menikah. Karena hal itu lebih menjaga pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa belum mampu, hendaklah ia berpuasa. Karena puasa adalah wija' (mengendurkan gejolak syahwat baginya." (HR Bukhari).
1. Puasa arafah bagi yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji. Yaitu pada tanggal 9 Dzulhijjah. "Puasa di hari arafah, menghapus dosa dua tahun, setahun yang silam dan setahun yang akan datang." (HR Muslim).
2. Puasa asyura dan tasu'a. Yaitu dihari ke sembilan dan sepuluh bulan Muharam (asyura). "Dan puasa Asyura itu menghapus dosa setahun yang telah lalu." (HR Muslim). Tentang puasa tasu'a, pada setahun sebelum beliau meninggal beliau bersabda, "Pada tahun depan insya Allah kita berpuasa pada hari ke sembilan."
3. Puasa enam hari di bulan Syawal "Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dan meneruskannya di bulan enam hari di bulan Syawal, maka seperti berpuasa sepanjang tahun." (HR Muslim).
4. Puasa di bulan Sya'ban. "Aisyah berkata, 'Aku tidak pernah melihat beliau (Rasulullah saw.) lebih banyak berpuasa kecuali di bulan Sya'ban." (HR Muslim)
5.sepuluh pertama bulan Dzulhijjah, berdasarkan hadis Bukhari dan Muslim yang menerangkan bahwa tidak ada hari-hari yang amal shaleh lebih dicintai di dalamnya dari pada hari-hari sepuluh Dzul hijjah.
6. Puasa hari-hari putih, yaitu pada tanggal 13.14. 15 pada setiap bulan hijriah. Puasa hari tersebut seperti puasa sepanjang tahun (sesuai dengan HR Nasa'i).
7. Puasa hari Senin dan Kamis "Sesungguhnya amal perbuatan diperlihatkan setiap hari Senin dan Kamis, kemudian Allah mengampuni setiap orang muslim atau orang mukmin kecuali dua orang yang saling mendiamkan. Allah berfirman, ' Tundalah pengampunan mereka berdua'." (HR. Ahmad).
8. Puasa Dawud, sehari puasa sehari tidak. Puasa sunah yang paling baik dan paling dicintai Allah.
9. Puasa bujangan yang belum mampu nikah. "Wahai para pemuda, Barang siapa mampu untuk menikah, maka hendaklah segera menikah. Karena hal itu lebih menjaga pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa belum mampu, hendaklah ia berpuasa. Karena puasa adalah wija' (mengendurkan gejolak syahwat baginya." (HR Bukhari).
Label: Tanya Jawab Islam
Apakah Anak yang Terlahir dalam Keluarga Islam Otomatis Jadi Muslim?
0 komentar Diposkan oleh Unknown di 15:10
Pertanyaan:
Assalaamu'alaikum wr. wb.
Saya adalah seorang yang memeluk agama Islam sejak 1992 yang lalu, yang sebelumnya adalah pemeluk Kristen Katholik. Alhamdulillah, Allah telah memberi saya hidayah-Nya yang teramat besar sehingga saya dapat mengikuti agama yang HAQ, yaitu Islam. Berkenaan dengan hal tersebut diatas, saya ada pertanyaan yang sangat sulit saya carikan jawabannya, yaitu: Melihat rukun Islam yang lima itu, dimana Ikrar dengan mengucapkan dua kalimat syahadat adalah merupakan gerbang pertama yang harus dilalui seseorang yang akan memeluk agama Islam. Dan itu telah saya lalui dengan selamat, Alhamdulillah. Pertanyaanya adalah: Apakah seseorang anak yang dilahirkan dalam keluarga Islam, maka secara otomatis dia juga beragama Islam? Walau sampai dewasa (atau bahkan sampai dia meninggal) tidak pernah dia berikrar dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, sebagaimana yang telah saya lakukan? Demikian pertanyaan ini saya sampaikan, mohon jawaban yang lengkap termasuk dalil - dalil yang ada, agar saya tidak salah dalam bersikap dalam membesarkan anak. Semoga pengasuh rubrik Konsultasi ini selalu dalam lindungan dan ridha Allah. Amin. Wassalaamualaikum wr. wb.
Saya adalah seorang yang memeluk agama Islam sejak 1992 yang lalu, yang sebelumnya adalah pemeluk Kristen Katholik. Alhamdulillah, Allah telah memberi saya hidayah-Nya yang teramat besar sehingga saya dapat mengikuti agama yang HAQ, yaitu Islam. Berkenaan dengan hal tersebut diatas, saya ada pertanyaan yang sangat sulit saya carikan jawabannya, yaitu: Melihat rukun Islam yang lima itu, dimana Ikrar dengan mengucapkan dua kalimat syahadat adalah merupakan gerbang pertama yang harus dilalui seseorang yang akan memeluk agama Islam. Dan itu telah saya lalui dengan selamat, Alhamdulillah. Pertanyaanya adalah: Apakah seseorang anak yang dilahirkan dalam keluarga Islam, maka secara otomatis dia juga beragama Islam? Walau sampai dewasa (atau bahkan sampai dia meninggal) tidak pernah dia berikrar dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, sebagaimana yang telah saya lakukan? Demikian pertanyaan ini saya sampaikan, mohon jawaban yang lengkap termasuk dalil - dalil yang ada, agar saya tidak salah dalam bersikap dalam membesarkan anak. Semoga pengasuh rubrik Konsultasi ini selalu dalam lindungan dan ridha Allah. Amin. Wassalaamualaikum wr. wb.
Jawaban:Alhamdulillah, Allah telah menyelamatkan Anda dari kegelapan menuju
sinar cahaya petunjuk yang terang. Sungguh nikmat yang sangat agung yang tak
bisa ditukar walau dengan dunia seisinya.
Mengenai pertanyaan Anda, Rasulullah saw. bersabda dalam sebuah hadis sahih, "Sesungguhnya, setiap yang terlahir pasti dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci, memeluk Islam). Kedua orang tuanyalah yang kemudian menjadikan anak itu Yahudi, Nashrani, ataupun Majusi (penyembah api). " Lihat juga surah Al-A'raf 112 yang menerangkan bahwa Allah sudah meminta persaksian dan ikrar seorang bayi di kandungan bahwa Allah adalah yang harus ia sembah.
Berdasarkan hadis di atas dipahami bahwa bayi yang lahir di dunia, apapun latar belakang orang tuanya, ia adalah bayi yang lahir dalam keadaan Islam. Jika kemudian dia tumbuh dalam keluarga Islam, maka ia memang menjadi muslim dan akan tetap menjadi muslim apabila dia tidak melakukan hal-hal yang dapat membatalkan dan menggugurkan keislamannya. Namun Apabila dia kemudian melakukan hal yang membatalkan keislaman, secara substansial dia bukan lagi seorang muslim, meskipun ia menyandang gelar atau dikenal sebagai muslim.
Sebenarnya untuk dianggap menjadi muslim, seseorang tidak cukup hanya mengucapkan syahadat saja. Tetapi ia harus melaksanakan segala konsekwensinya sebagai muslim. Sebab Islam ataupun Iman adalah mencakup keyakinan dan pembenaran dalam hati, ikrar dengan lesan, dan diaplikasikan dalam perbuatan nyata. Seperti harus menunaikan kewajiban salat, puasa, harus berakhlak baik, dan lain-lainnya.
Semoga Allah selalu melimpahkan kedamaian, kasih sayang dan berkahnya kepada Anda sekeluarga, dan semoga Allah senantiasa membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya. Amin.
Wallahu a'lam.
Mengenai pertanyaan Anda, Rasulullah saw. bersabda dalam sebuah hadis sahih, "Sesungguhnya, setiap yang terlahir pasti dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci, memeluk Islam). Kedua orang tuanyalah yang kemudian menjadikan anak itu Yahudi, Nashrani, ataupun Majusi (penyembah api). " Lihat juga surah Al-A'raf 112 yang menerangkan bahwa Allah sudah meminta persaksian dan ikrar seorang bayi di kandungan bahwa Allah adalah yang harus ia sembah.
Berdasarkan hadis di atas dipahami bahwa bayi yang lahir di dunia, apapun latar belakang orang tuanya, ia adalah bayi yang lahir dalam keadaan Islam. Jika kemudian dia tumbuh dalam keluarga Islam, maka ia memang menjadi muslim dan akan tetap menjadi muslim apabila dia tidak melakukan hal-hal yang dapat membatalkan dan menggugurkan keislamannya. Namun Apabila dia kemudian melakukan hal yang membatalkan keislaman, secara substansial dia bukan lagi seorang muslim, meskipun ia menyandang gelar atau dikenal sebagai muslim.
Sebenarnya untuk dianggap menjadi muslim, seseorang tidak cukup hanya mengucapkan syahadat saja. Tetapi ia harus melaksanakan segala konsekwensinya sebagai muslim. Sebab Islam ataupun Iman adalah mencakup keyakinan dan pembenaran dalam hati, ikrar dengan lesan, dan diaplikasikan dalam perbuatan nyata. Seperti harus menunaikan kewajiban salat, puasa, harus berakhlak baik, dan lain-lainnya.
Semoga Allah selalu melimpahkan kedamaian, kasih sayang dan berkahnya kepada Anda sekeluarga, dan semoga Allah senantiasa membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya. Amin.
Wallahu a'lam.
Label: Tanya Jawab Islam
Pertanyaan:
Batalkah Wudlu seorang suami atau istri yang bersenggolan dan mengenai kulit
dengan istri atau suami mereka , apakah ada dalilnya dalam hal ini?
Jawaban:
Dalam menafsirkan ayat 6 surat Al-Maidah "Au laamastumun nisaa'", para ulama memberikan makna hanya bersentuhan saja, dan sebagian yang lain memberikan makna untuk "Au laamastumun nisaa' disini adalah berjima' (berhubungan seksual). Tetapi kebanyakan mufassirin memberatkan makna yang kedua yaitu yang dimaksud adalah Berhubungan badan (seksual). Jadi bersentuhan saja tidak membatalkan wudlu'. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw. pernah mencium istrinya padahal beliau hendak mendirikan salat. Kecuali jika bersentuhan tersebut sampai ketingkat tertentu sehingga sampai mengakibatkan keluarnya mani. Dalam hal ini jelas bahwa keluarnya mani tersebut membatalkan wudlu, bahkan mewajibkan mandi. Wallahu a'lam.
Jawaban:
Dalam menafsirkan ayat 6 surat Al-Maidah "Au laamastumun nisaa'", para ulama memberikan makna hanya bersentuhan saja, dan sebagian yang lain memberikan makna untuk "Au laamastumun nisaa' disini adalah berjima' (berhubungan seksual). Tetapi kebanyakan mufassirin memberatkan makna yang kedua yaitu yang dimaksud adalah Berhubungan badan (seksual). Jadi bersentuhan saja tidak membatalkan wudlu'. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw. pernah mencium istrinya padahal beliau hendak mendirikan salat. Kecuali jika bersentuhan tersebut sampai ketingkat tertentu sehingga sampai mengakibatkan keluarnya mani. Dalam hal ini jelas bahwa keluarnya mani tersebut membatalkan wudlu, bahkan mewajibkan mandi. Wallahu a'lam.
Label: Tanya Jawab Islam
Pertanyaan:
Bagaimanakah hukum menguburkan orang mati di dalam masjid?
Jawaban:
Mengubur orang yang telah mati di dalam masjid dilarang oleh Nabi saw.. Beliau juga melarang membuat masjid di atas kuburan dan melaknat orang yang melakukannya. Saat menjelang wafatnya, beliau memperingatkan kaumnya bahwa tindakan semacam itu adalah termasuk perbuatan kaum Yahudi dan Nasrani. Dan, hal itu menjadi wasilah (sarana) menuju perbuatan syirik kepada Allah dengan penghuni kubur. Kaum muslimin harus mewaspadai fenomena yang berbahaya ini. Hendaklah masjid-masjid kaum muslimin dibangun atas dasar tauhid dan akidah yang benar serta terbebas (kosong) dari kuburan.
Allah berfirman (yang artinya), "Dan sesungguhnya, masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah." (Al-Jinn: 18).
Maka, masjid Allah harus kosong dari hal-hal yang berbau kesyirikan. Di dalamnya harus dilaksanakan ibadah hanya kepada Allah saja, tanpa ada perbuatan syirik. Inilah kewajiban kaum muslimin.
Jawaban:
Mengubur orang yang telah mati di dalam masjid dilarang oleh Nabi saw.. Beliau juga melarang membuat masjid di atas kuburan dan melaknat orang yang melakukannya. Saat menjelang wafatnya, beliau memperingatkan kaumnya bahwa tindakan semacam itu adalah termasuk perbuatan kaum Yahudi dan Nasrani. Dan, hal itu menjadi wasilah (sarana) menuju perbuatan syirik kepada Allah dengan penghuni kubur. Kaum muslimin harus mewaspadai fenomena yang berbahaya ini. Hendaklah masjid-masjid kaum muslimin dibangun atas dasar tauhid dan akidah yang benar serta terbebas (kosong) dari kuburan.
Allah berfirman (yang artinya), "Dan sesungguhnya, masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah." (Al-Jinn: 18).
Maka, masjid Allah harus kosong dari hal-hal yang berbau kesyirikan. Di dalamnya harus dilaksanakan ibadah hanya kepada Allah saja, tanpa ada perbuatan syirik. Inilah kewajiban kaum muslimin.
Sumber: Majmu' Fatawa, Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin.
Label: Tanya Jawab Islam
Ruqyah adalah mengobati orang
yang terkena kesurupan, gangguan atau kemasukan jin. Ruqyah syar`iyah adalah
mengobati orang yang terkena kesurupan , gangguan atau kemasukan jin dengan
cara-cara yang di syariatkan Islam, yaitu dengan ayat-ayat Alquran, Asma`ul
husna, do`a-do`a yang berasal dari Alquran dan hadis. Islam melarang ruqyah
dengan bantuan dukun, sihir, jin dan cara-cara lain yang bertentangan dengan
Islam.
Nabi mengizinkan ruqyah dengan Alquran, dzikir-dzikir, dan
do`a-do`a selama tidak menngaundung syirik atau perkataan yang tidak bisa
dimengerti maknanya. Berdasarkan hadis di bawah ini:
Dari `Auf Bin
Malik, Ia berkata, "Kami meruqyah di masa jahiliyyah , lalu kami berkata, Wahai
Rasulullah! Bagaimana pendapat Anda tentang hal itu?` Beliau menjawab,
Perlihatkanlah ruqyah kalian kepadaku. Tidak mengapa melakukan ruqyah selama
tidak mengandung syirik." (HR. Muslim dan Abu Dawud).
Para ulama telah
bersepakat membolehkan ruqyah, apabila menurut kategori yang disebutkan tadi,
serta menyakini bahwa ia adalah sebagai sebab, tidak ada pengaruh baginya
kecuali dengan taqdir Allah. Adapun menggantungkan sesuatu di leher atau
mengikatnya di salah satu anggota tubuh seseorang, jika bukan berasal dari
Alquran, hukumnya haram, bahkan syirik. Berdasarkan hadits di bawah ini:
Dari Imran bin Al Husain, bahwa Nabi melihat seseorang di tangannya ada
gelang dari kuningan. Beliau bersabda,"Sesungguhnya ia tidak menambahkan anda
selain kelemahan, lemparkanlah dari anda. Sesungguhnya jika anda meninggal dan
dia tetap bersama anda, anda tidak akan beruntung selamanya." (HR. Ibnu Majah,
Ahmad. Dihasankan Al Bushairi dalam Az Zawaa`id).
Dan hadis yang
diriwayatkan dari Uqbah bin Nafi` dari Nabi beliau bersabda, "Barang siapa yang
meanggantung tamimah, semoga Allah tidak mengabulkan keinginannya, dan barang
siapa menggantung wada`ah, semoga Allah tidak mmberi ketenangan padaa dirinya."
(HR. Ahmad).
Dari Ibnu mas`ud saya mendengar Rasulullah bersabda,
"sesungguhnya ruqyah, tama`im dan tiwalah adalah syirik." (HR. Ahmad dan Abu
Dawud).
"Barang siapa menggantungkan tamimah, berarti dia telah berbuat
syirik." (HR. Ahmad).
Jika yang digantungkan adalah dari ayat-ayat Al
Quran, maka pendapat yang shahih adalah dilarang pula karena tiga alasan :
a. Bersumber dari hadits-hadaits nabi yang melarang menggantungkan tamimah
dan tidak ada dalil yang mengkhususkannya.
b. Menutup jalan, karena hal itu
bisa membawa kepada menggantungkan yang bukan dari Alquran.
c. Jika ia
menggantungkan dari yang demikian itu (Alquran), menjadi penghinaan dengan
membawa serta di waktu buang air, istinja` dan jima` (bersetubuh), serta yang
semisal dengannya.1
Hukum Mengambil Upah dari
Meruqyah
Perlu diketahui, bahwa bacaan ruqyah tidak akan berguna
terhadaap orang yang sakit kecuali dengan beberapa syarat :
a. Pantasnya
orang yang meruqyah adalah seorang yang baik, shalih, istiqamah dalam
melaksanakan yang wajib, sunah, menghindari yang haram dan syubhat.
b. Tidak
menentukan upah atas orang yang sakit, menjauhkan diri dari mengambil upah yang
lebih dari kebutuhannya. Maka semua itu lebih mendukung kemanjuran ruqyahnya.
c. Mengenal ruqyah-ruqyah yang dibolehkan dalam syariat.
d. Orang yang
sakit adalah orang yang sholeh ,baik , istiqamah dalam beragama dan jauh dari
yang diharamkan.
e. Orang yang sakit menyakini bahwa Al Quran adalah
pernawar ,rahmat dan obat yang berguna.2
Seharusnya Seorang raaqi/ yang
meruqyah (berniat) berbuat baik dengan ruqyahnya untuk manfaat kaum muslimin dan
mengharapkan pahala dari Allah dalam mngobati umat islam yang sakit,
mennhilangkan bahaya dari mereka, dan tidak mengharapkan upah atas ruqyahnya.
Tetapi ia menyerahkan perkaranya pada pasien. Jika mereka memberikan kepadaya
melebihi jerih payahnya, ia mesti bersikap zuhud dan mengembalikannya. Jika
upahnya kurang dari haknya, ia mesti membiarkan kekurangannya.
Syekh
Abdullah Al Jibrin berkata, "Tidak ada halangan mengambil upah atas ruqyah
syar`iyyah dengan syarat kesembuhan dari sakit." Dalinya adalah hadits riwayat
Abu Sa`id , bahwasannya teman mereka meruqyah pemimpin suku tersebut setelah ada
kesepakatan antara mereka atas upah sekelompok kambing, lalu mereka pun
menepatinya. Nabi bersabda:
"Bagilah dan tentukanlah satu bagian untukku
bersama kalian." ( H.R. Bukhari Muslim ). "Sesungguhnya upah yang paling pantas
kamu ambil adalah kitabullah (Alquran)." (HR. Bukhari).
Beliau
menetapkan kepada mereka penentuan syarat dan mereka pun memberikan bagian untuk
beliau sebagai tanda kebolehannya, namun dengan syarat ia melakukan ruqyah
syar`iyyah. Jika bukan ruqyah syar`iyyah maka tidak boleh. dan tidak
disyariatkan melainkan setelah selamat dari sakit ( setelah sembuh ) dan
hilangnya penyakit. Dan yang utama dalam membaca ruqyah adalah tidak memberi
syarat, dan melakukan ruqyah untuk manfaat orang-orang beriman serta
menghilangkan bahaya dan sakit. Dan jika memberikan syarat maka janganlah
memberikan syarat yang ketat, namun sekadar keperluan mendesak.
Hadits
Abu Sa`id Al Khudry tersebut adalah menunjukkan bolehnya ruqyah dan mengambil
upah atasnya. Syaikh Abdullah Al Jibrin juga mengatakan, "Kami katakan bahwa
sesungguhnya dokter yang mengobati, apabila mensyaratkan upah tertentu , maka
harus disyaratkan sembuh dan selamat dari sakit yang ditanganinya, kecuali
apabila mereka sepakat untuk memberikan senilai biaya pengobatan dan
obat-oabatan. Adapun jimat semacam ini, pada dasarnya adalah ruqyah, maksudnya
membacakan atas pasien serta meludah disertai sedikit air liur. Demikian pula
penulisan ayat-ayat di kertas dan seumpamanya dengan air za`faran, boleh
mengambil upah atas yang demikian sebagai imbalan obat-obatan. Dan seperti ini
air bersih dan minyak. Apabila dibacakan ayat-ayat Al Quran padanya, maka boleh
baginya mengambil nilai biasanya, tanpa berlebih-lebihan dalam penetapan tarif
yang tidak sebanding." 3
Hukum Ruqyah Sebagai Profesi dan Mendirikan
Tempat Praktek untuknya
Syaikh Shalih Al fauzan pernah ditanya, "Apa
pendapat Syaikh tentang orang yang membuka praktek pengobatan dengan bacaan
ruqyah?."
Beliau menjawab, "Ini tidak boleh dilakukan karena ia membuka
pintu fitnah, membuka pintu usaha bagi yang berusaha melakukan tipu muslihat.
Ini bukanlah perbuatan As-Salafush Shalih bahwa mereka membuka rumah atau
membuka tempat-tempat untuk tempat praktek. Melebarkan sayap dalam hal ini akan
menimbulkan kejahatan, kerusakan masuk di dalamnya dan ikut serta di dalamnya
orang yang tidak baik. Karena manusia berlari di belakang sifat tamak, ingin
menarik hati manusia kepada mereka, kendati dengan melakukan hal yang
diharamkan. Dan tidak boleh dikatakan,"Ini adalah orang shalih." Karena manusia
mendapat fitnah, semoga Allah memberi perlindungan. Walaupun dia orang shalih
maka membuka pintu ini tetap tidak boleh." 4
Banyak manusia
berkenyakinan tentang kekhususan tertentu yang dimiliki oleh orang yang telah
melakukan ruqyah (raaqi), sehingga mereka mempunyai anggapan (bersikap
ghuluw/berlebihan) terhadap raaqi tentang apa-apa yang dibaca ketika sedang
meruqyah. Aslinya dalam syariat Islam adalah saddu dzari`ah (mencegah bahaya)
karena pekerjaan ruqyah ini kadang-kadang membuka pintu kejahatan dan kesesatan
bagi ahli Islam. Cara-cara seperti ini (mengambil ruqyah sebagai profesi) tidak
pernah ada (dasarnya) dari Nabi saw. dan tidak pula dikerjakan oleh satupun dari
sahabatnya, serta tidak pernah dikerjakan salah seorang dari ahli ilmu dan ahli
kemuliaan, walaupun mereka ada keperluan. Pada dasarnya kita harus mengikuti dan
mencontoh mereka (Nabi, para sahabatnya, ahli ilmu, dan ahli kemuliaan). 5
Pada
dasarnya bila seseorang menjadikan ruqyah sebagai profesi, ia akan disibukkan
oleh urusan ini dan meninggalkan urusan-urusannya yang lain. Terkecuali bila
seseorang tadi mempunyai pekerjaan dan tidak menjadikan ruqyah sebagai
profesinya serta tidak membuka praktek, maka hal itu boleh-boleh saja. Dan dia
hanya melanyani masyarakat yang membutuhkan bantuannya untuk diruqyah karena
diganggu setan. Dia niatkan ruqyahnya untuk tolong menolong dalam kebaikan, amar
ma`ruf nahi munkar, memerangi setan dan jin yang mengganggu manusia dan
mengharapkan ridha Allah semata. Dia tidak mengharapkan upah dari manusia dan
tidak menetapkan tarif besar kecilnya dari manusia. Bila di tengah-tengah ia
meruqyah ada yang ikut (maksudnya adalah diberi upah), maka bila ia memerlukan
boleh diambil. Dan bila ia tidak memerlukannya karena sudah merasa cukup, maka
boleh tidak diambil sebagai sikap zuhud pada apa yang ada ditangan manusia.
Karena pada dasarnya ia hanya mengharapkan ridha Allah dan wajah-Nya serta
menolong manusia yang membutuhkan bantuannya. Melakukan ruqyah dengan niat
seperti ini adalah dibolehkan dan disyariatkan .
Adapun bila ia melakukan
ruqyah hanya dipakai sebagai profesi saja, membuka praktek, dan memasang tarif
yang tinggi serta tidak ada unsur untuk membantu masyarakat yang membutuhkan
pertolongannya. Maka meruqyah dengan niat seperti ini, jelas bertentangan dengan
syariat. Wallahu A`lam Bish Shawab.
Sumber Bacaan:
1. Zadul Ma`ad, Ibnu Qayyim Al Jauziyyah.
2. Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid
Syekh Muhammad bin Abdul Wahab.
3. Al Qaul Mufid Fi Kitabut Tauhid, Syekh Muhammad bin
Shalih Al Utsaimin
4. Syarah
Kitab Aqidah At Thawiyyah, Imam Abil Izz
5. Fatwa-fatwa terkini, Imam Baladul Haram.
6.
Aqidah Mukmin, Syaikh Abu Bakar Al Jazaairi.
7. Minhaj Al-Syar`i Fi `Ilaaji
Al Massi Wa Al Shura`i.
8. Fataawa Lajnah Daaimah.
9. Alam Jin dan
Manusia, Ustadz Abu Umar Abdillah.
10. Fathul Bari, Imam Ibnu Hajar.
11.
Shahih Muslim Syarah Imam Nawawi.
12. Idhaahu Ad Dalaalah Fii `Umuumi Al
risalah
Label: Artikel Islam
Allah berfirman (yang artinya), "Dan tidaklah sama kebaikan dan
kejahatan.Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba
orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi
teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan
kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada
orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan jika syaitan
mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah.
Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
(Fushshilat: 34-36).
Tidaklah Allah menciptakan manusia melainkan Allah juga menciptakan setan untuk mengujinya. Secara fitrah, manusia akan selalu cenderung pada kebaikan. Tetapi, untuk selalu sejalan dengan fitrahnya, sangatlah sulit. Karena, ketika manusia hendak memilih kebaikan, akan selalu ada bisikan-bisikan yang menghalanginya, dan menganjurkan yang sebaliknya. Seperti yang pernah disabdakan oleh Rasulullah saw. bahwa di dalam hati manusia ada dua bisikan; bisikan malaikat dan bisikan setan. Bisikan malaikat adalah kebaikan dan bisikan setan adalah kejahatan. Adapun, bisikan mana yang akan diikuti oleh manusia, tergantung pada keadaan hati manusia itu. Jika hatinya bersih, ia akan mendengar bisikan malaikat, namun jika hatinya kotor dan berpenyakit, dia akan lebih sering menuruti bisikan setan. Dari situ, timbullah dua akibat, yaitu kebajikan dan kejahatan. Kebaikan dan kejahatan itu pun beragam. Ada yang erat kaitannya dengan Allah langsung, dan ada yang berhubungan dengan sesama hamba.
Pada kesempatan ini, kita tidak akan membahas kebaikan dan kejahatan yang dilakukan manusia berkaitan dengan Allah, akan tetapi kita akan membahas antara kebaikan dan kejahatan yang terjadi antar hamba Allah. Bagaimanakah sebaiknya kita menghadapi kejahatan yang dihadapkan kepada kita? Marilah kita simak keterangan ayat berikut.
Allah berfirman, "Dan tidak sama antara kebaikan dan kejahatan…." Menurut Syech Abdurrahman As-Sa'dy, maksudnya adalah tidaklah sama antara antara perilaku kebaikan, dan ketaatan dalam rangka menggapai ridha Allah dengan perbuatan kejahatan dan maksiat yang dibenci dan tidak diridhi Allah. Tidak sama antara berbuat baik terhadap makhluk Allah dan berbuat jahat kepadanya, baik bentuk perilakunya, sifatnya, dan balasan yang akan diterima.
Pada kenyataannya, memang benar apa yang telah dikhabarkan Alquran bahwa manusia terlalu banyak berbuat zalim, baik pada Allah, pada dirinya sendiri, maupun pada orang lain. Hingga tidak kita pungkiri bahwa terkadang kita juga didzalimi oleh orang lain, atau ada orang lain yang berbuat jahat kepada kita. Dalam menghadapi kejahatan yang dilakukan seseorang kepada kita, Alquran memberikan petunjuk, "Tolaklah (balaslah) kejahatan itu dengan kebaikan," maksudnya adalah jika ada orang yang berbuat jahat kepada kita, balaslah kejahatannya itu dengan kebaikan. Jika ada orang yang jahat kepadamu dengan perbuatannya, dengan perkataannya, atau dengan sesuatu yang lain, maka balaslah hal itu dengan kebaikan. Jika ia memutus hubungan denganmu, cobalah jalin hubungan baik dengannya. Jika ia menzalimi, maafkanlah ia. Jika berbicara tentang kamu, janganlah engkau hiraukan. Tetapi, maafkanlah ia, dan sambutlah ia dengan perkataan yang baik. Apabila ia menjauhimu dan tidak menghiraukanmu, tetaplah berkata yang lembut dan mengucapkan salam kepadanya. Jika engkau mampu membalas kejahatan dengan kebaikan, niscaya engkau akan mendapatkan faedah yang sangat besar. Demikianlah apa yang dikatakan oleh Syech Abdurrahman Nashir As-Sa'dy. Lalu, apakah faedah yang besar itu? Allah berfirman, "…maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia." Ibnu Katsir mengomentari ayat ini, yaitu apabila engkau berbuat baik kepada orang yang telah berlaku jahat terhadapmu, maka kebaikanmu itu akan membawanya untuk bisa condong kepadamu, menyukaimu, dan bersikap lunak padamu, sehingga dia akan menjadi seperti teman yang setia dan sangat dekat kepadamu, dengan kasih sayang dan kebaikan untukmu.
Demikian apa yang dianjurkan oleh Allah kepada kita, bagaimana kita membalas kejahatan seseorang yang menimpa kita. Namun, hal itu sangatlah berat untuk dilaksanakan.
Hingga diterangkan pada ayat selanjutnya, "Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." Menurut Ibnu Katsir, tidak akan mampu menerima dan mengamalkan wasiat tersebut kecuali orang yang sabar, karena hal itu sangat memberatkan jiwa. Dan yang dimaksud dengan keberuntungan yang besar adalah kebahagiaan di dunia dan akherat bagi yang mampu mengamalkannya.
Betapa berat dan sulit hal tersebut untuk dilakukan. Karena, watak seseorang akan cenderung membalas kejahatan dengan kejahatan. Namun, jika seseorang mengetahui besarnya nilai kesabaran dan besarnya pahala yang akan diterima, mengetahui bahwa membalas kejahatan dengan kejahatan tidak ada manfaatnya sedangkan permusuhan hanya akan menambah kekerasan, menyadari bahwa membalas kejahatan dengan kebaikan bukan berarti kehinaan dan kerendahan martabat akan tetapi bersikap rendah diri dihadapan Allah, maka hal tersebut akan menjadi ringan baginya, dan dia akan melakukannya dengan lapang bahkan menikmatinya.
Ali bin Abi Thalhah mengatakan bahwa berkenaan dengan ayat ini Ibnu Abbas berkata, "Allah memerintahkan kita untuk bersabar ketika marah, lemah lembut menghadapi kebodohan, dan memaafkan perlakuan buruk (kejahatan). Barang siapa mampu mengamalkannya, maka Allah akan menghindarkannya dari godaan setan, dan akan menjadikan musuhnya tunduk padanya seperti teman yang setia padanya."
Kejahatan, bagaimanapun juga berasal dari setan. Dan setan nada dua macam, setan dari golongan manusia, dan setan dari golongan jin. Setelah Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berbuat kebaikan kepada sesamanya meskipun telah mendapat perlakuan jahat, kemudian pada ayat selanjutnya Allah memerintahkan untuk berlindung kepada-Nya apabila setan datang menggoda. Karena, untuk menghadapi setan yang berwujud manusia dimungkinkan dengan berbuat baik padanya, maka dia akan berubah baik kepada kita. Adapun setan dari golongan jin, tidak cara berkelit dan menghindar darinya apabila ia datang menggoda kecuali dengan meminta perlindungan kepada-Nya. Jika seseorang menyerahkan urusannya kepada Allah dan berlindung kepada-Nya, makar setan tidak akan berarti baginya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam jika menegakkan salat mengucapkan, "A'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim, min hamzihi, wa nafkhihi, wa naftsihi." Artinya, "Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, dari godaan, tiupan, dan hembusannya."
Ada beberapa ayat lain yang senada dengan ayat di atas, diantaranya; "Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Al-A'raf: 199-200). Dan, "Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah". Ya Rabbku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Rabbku, dari kedatangan mereka kepadaku". (Al-Mu'minun: 96-98).
Untuk lebih jelasnya, marilah kita lihat contoh dari sebagian salafus saleh dalam mensikapi kejahatan yang dihadapkan pada mereka.
Di dalam kitab "Asybaluna Al-Ulama'," disebutkan bahwa budak Abu Dzarr mengetahui bahwa tuannya tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, akan tetapi ia akan membalasnya dengan kebaikan. Setiap ia marah tentang sesuatu, ia pasti akan memaafkan pelakunya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan kecintaannya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, selain merupakan bentuk pengamalan firman Allah, "Sesungguhnya, kebaikan itu menghapuskan kejahatan."
Budak itu ingin Abu Dzarr membebaskannya agar ia menjadi orang yang merdeka. Ia beranjak menuju kambing milik Abu Dzarr, lalu membiarkan kambing itu memakan makanan untuk kuda, hingga makanan itu habis. Tatkala Abu Dzarr datang, ia tidak mendapati makanan untuk kudanya. Ia bertanya kepada budaknya, "Apa yang terjadi?" Budaknya menjawab, "Saya melepaskan kambing ke tempat makanan kuda, hingga ia memakannya sampai habis." Abu Dzarr bertanya lagi, "Mengapa engkau lakukan itu?" Budaknya menjawab, "Saya ingin membuat engkau marah." Lalu, sesudah memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap apa yang ada di dalam hatinya, Abu Dzarr berkata, "Aku akan kumpulkan pahala dengan kemarahanku. Engkau sekarang merdeka karena Allah."
Memang berat, membalas kejahatan dengan kebaikan. Suatu hal yang bertentangan dengan watak dasar manusia. Namun, barang siapa mampu mengamalkannya, ia akan mendapat keberuntungan yang besar. Dan, tidak mampu menerima dan mengamalkan hal itu kecuali orang-orang yang sabar. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kesabaran, dan kuatkanlah pertahanan kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang zalim.
(Fushshilat: 34-36).
Tidaklah Allah menciptakan manusia melainkan Allah juga menciptakan setan untuk mengujinya. Secara fitrah, manusia akan selalu cenderung pada kebaikan. Tetapi, untuk selalu sejalan dengan fitrahnya, sangatlah sulit. Karena, ketika manusia hendak memilih kebaikan, akan selalu ada bisikan-bisikan yang menghalanginya, dan menganjurkan yang sebaliknya. Seperti yang pernah disabdakan oleh Rasulullah saw. bahwa di dalam hati manusia ada dua bisikan; bisikan malaikat dan bisikan setan. Bisikan malaikat adalah kebaikan dan bisikan setan adalah kejahatan. Adapun, bisikan mana yang akan diikuti oleh manusia, tergantung pada keadaan hati manusia itu. Jika hatinya bersih, ia akan mendengar bisikan malaikat, namun jika hatinya kotor dan berpenyakit, dia akan lebih sering menuruti bisikan setan. Dari situ, timbullah dua akibat, yaitu kebajikan dan kejahatan. Kebaikan dan kejahatan itu pun beragam. Ada yang erat kaitannya dengan Allah langsung, dan ada yang berhubungan dengan sesama hamba.
Pada kesempatan ini, kita tidak akan membahas kebaikan dan kejahatan yang dilakukan manusia berkaitan dengan Allah, akan tetapi kita akan membahas antara kebaikan dan kejahatan yang terjadi antar hamba Allah. Bagaimanakah sebaiknya kita menghadapi kejahatan yang dihadapkan kepada kita? Marilah kita simak keterangan ayat berikut.
Allah berfirman, "Dan tidak sama antara kebaikan dan kejahatan…." Menurut Syech Abdurrahman As-Sa'dy, maksudnya adalah tidaklah sama antara antara perilaku kebaikan, dan ketaatan dalam rangka menggapai ridha Allah dengan perbuatan kejahatan dan maksiat yang dibenci dan tidak diridhi Allah. Tidak sama antara berbuat baik terhadap makhluk Allah dan berbuat jahat kepadanya, baik bentuk perilakunya, sifatnya, dan balasan yang akan diterima.
Pada kenyataannya, memang benar apa yang telah dikhabarkan Alquran bahwa manusia terlalu banyak berbuat zalim, baik pada Allah, pada dirinya sendiri, maupun pada orang lain. Hingga tidak kita pungkiri bahwa terkadang kita juga didzalimi oleh orang lain, atau ada orang lain yang berbuat jahat kepada kita. Dalam menghadapi kejahatan yang dilakukan seseorang kepada kita, Alquran memberikan petunjuk, "Tolaklah (balaslah) kejahatan itu dengan kebaikan," maksudnya adalah jika ada orang yang berbuat jahat kepada kita, balaslah kejahatannya itu dengan kebaikan. Jika ada orang yang jahat kepadamu dengan perbuatannya, dengan perkataannya, atau dengan sesuatu yang lain, maka balaslah hal itu dengan kebaikan. Jika ia memutus hubungan denganmu, cobalah jalin hubungan baik dengannya. Jika ia menzalimi, maafkanlah ia. Jika berbicara tentang kamu, janganlah engkau hiraukan. Tetapi, maafkanlah ia, dan sambutlah ia dengan perkataan yang baik. Apabila ia menjauhimu dan tidak menghiraukanmu, tetaplah berkata yang lembut dan mengucapkan salam kepadanya. Jika engkau mampu membalas kejahatan dengan kebaikan, niscaya engkau akan mendapatkan faedah yang sangat besar. Demikianlah apa yang dikatakan oleh Syech Abdurrahman Nashir As-Sa'dy. Lalu, apakah faedah yang besar itu? Allah berfirman, "…maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia." Ibnu Katsir mengomentari ayat ini, yaitu apabila engkau berbuat baik kepada orang yang telah berlaku jahat terhadapmu, maka kebaikanmu itu akan membawanya untuk bisa condong kepadamu, menyukaimu, dan bersikap lunak padamu, sehingga dia akan menjadi seperti teman yang setia dan sangat dekat kepadamu, dengan kasih sayang dan kebaikan untukmu.
Demikian apa yang dianjurkan oleh Allah kepada kita, bagaimana kita membalas kejahatan seseorang yang menimpa kita. Namun, hal itu sangatlah berat untuk dilaksanakan.
Hingga diterangkan pada ayat selanjutnya, "Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." Menurut Ibnu Katsir, tidak akan mampu menerima dan mengamalkan wasiat tersebut kecuali orang yang sabar, karena hal itu sangat memberatkan jiwa. Dan yang dimaksud dengan keberuntungan yang besar adalah kebahagiaan di dunia dan akherat bagi yang mampu mengamalkannya.
Betapa berat dan sulit hal tersebut untuk dilakukan. Karena, watak seseorang akan cenderung membalas kejahatan dengan kejahatan. Namun, jika seseorang mengetahui besarnya nilai kesabaran dan besarnya pahala yang akan diterima, mengetahui bahwa membalas kejahatan dengan kejahatan tidak ada manfaatnya sedangkan permusuhan hanya akan menambah kekerasan, menyadari bahwa membalas kejahatan dengan kebaikan bukan berarti kehinaan dan kerendahan martabat akan tetapi bersikap rendah diri dihadapan Allah, maka hal tersebut akan menjadi ringan baginya, dan dia akan melakukannya dengan lapang bahkan menikmatinya.
Ali bin Abi Thalhah mengatakan bahwa berkenaan dengan ayat ini Ibnu Abbas berkata, "Allah memerintahkan kita untuk bersabar ketika marah, lemah lembut menghadapi kebodohan, dan memaafkan perlakuan buruk (kejahatan). Barang siapa mampu mengamalkannya, maka Allah akan menghindarkannya dari godaan setan, dan akan menjadikan musuhnya tunduk padanya seperti teman yang setia padanya."
Kejahatan, bagaimanapun juga berasal dari setan. Dan setan nada dua macam, setan dari golongan manusia, dan setan dari golongan jin. Setelah Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berbuat kebaikan kepada sesamanya meskipun telah mendapat perlakuan jahat, kemudian pada ayat selanjutnya Allah memerintahkan untuk berlindung kepada-Nya apabila setan datang menggoda. Karena, untuk menghadapi setan yang berwujud manusia dimungkinkan dengan berbuat baik padanya, maka dia akan berubah baik kepada kita. Adapun setan dari golongan jin, tidak cara berkelit dan menghindar darinya apabila ia datang menggoda kecuali dengan meminta perlindungan kepada-Nya. Jika seseorang menyerahkan urusannya kepada Allah dan berlindung kepada-Nya, makar setan tidak akan berarti baginya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam jika menegakkan salat mengucapkan, "A'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim, min hamzihi, wa nafkhihi, wa naftsihi." Artinya, "Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, dari godaan, tiupan, dan hembusannya."
Ada beberapa ayat lain yang senada dengan ayat di atas, diantaranya; "Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Al-A'raf: 199-200). Dan, "Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah". Ya Rabbku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Rabbku, dari kedatangan mereka kepadaku". (Al-Mu'minun: 96-98).
Untuk lebih jelasnya, marilah kita lihat contoh dari sebagian salafus saleh dalam mensikapi kejahatan yang dihadapkan pada mereka.
Di dalam kitab "Asybaluna Al-Ulama'," disebutkan bahwa budak Abu Dzarr mengetahui bahwa tuannya tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, akan tetapi ia akan membalasnya dengan kebaikan. Setiap ia marah tentang sesuatu, ia pasti akan memaafkan pelakunya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan kecintaannya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, selain merupakan bentuk pengamalan firman Allah, "Sesungguhnya, kebaikan itu menghapuskan kejahatan."
Budak itu ingin Abu Dzarr membebaskannya agar ia menjadi orang yang merdeka. Ia beranjak menuju kambing milik Abu Dzarr, lalu membiarkan kambing itu memakan makanan untuk kuda, hingga makanan itu habis. Tatkala Abu Dzarr datang, ia tidak mendapati makanan untuk kudanya. Ia bertanya kepada budaknya, "Apa yang terjadi?" Budaknya menjawab, "Saya melepaskan kambing ke tempat makanan kuda, hingga ia memakannya sampai habis." Abu Dzarr bertanya lagi, "Mengapa engkau lakukan itu?" Budaknya menjawab, "Saya ingin membuat engkau marah." Lalu, sesudah memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap apa yang ada di dalam hatinya, Abu Dzarr berkata, "Aku akan kumpulkan pahala dengan kemarahanku. Engkau sekarang merdeka karena Allah."
Memang berat, membalas kejahatan dengan kebaikan. Suatu hal yang bertentangan dengan watak dasar manusia. Namun, barang siapa mampu mengamalkannya, ia akan mendapat keberuntungan yang besar. Dan, tidak mampu menerima dan mengamalkan hal itu kecuali orang-orang yang sabar. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kesabaran, dan kuatkanlah pertahanan kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang zalim.
Label: Artikel Islam
Ziarah kubur hukumnya sunah bila tujuannya untuk melunakkan hati saat melihat
dan mengingatkan diri peziarah itu pada akhirat. Syaratnya tidak boleh dibarengi
dengan sesuatu perbuatan mungkar. Misalnya, meratapi, membakar dupa, memberi
lampu, memohon sesuatu kepada si mayit, meminta syafaat, berkat, dan tawasul
untuk menyampaikan sesuatu hajat atau keperluan dengan bersumpah, demi
kehormatan dan pndekatan para penghuni kubur di sisi Allah. Atau, duduk-duduk,
membuat masjid, dan membaca-baca di atasnya, menyembelih hewan dengan niat
taqarub atau nazar untuk kuburan dan sebagainya.
Semua tingakan tersebut adalah mungkar. Sebagian darinya ada yang makruh, dan ada pula yang haram, dan sebagian lagi termasuk perbuatan syirik dan kufur sepenuhnya.
Dalam hubungan ini, kami terangkan bahwa ziarah kubur itu sunah asalkan bebas atau lepas daripada semua kemungkaran, sebagaimana yang disebutkan di atas. Nabi saw. bersabda (yang artinya), "Berziarah ke kubur dan janganlah bertutur kata yang tidak patut." (HR Ibnu Majah, Nasai, Ahmad). Artinya, janganlah bertutur yang tidak layak, seperti meratap dengan teriakan-teriakan, meminta-minta, dan sebagainya.
Hadis lainnya, "Berziarahlah ke kubur, karena kubur mengingatkan kamu kepada akhirat." (HR Ibnu Majah).
Imam Muslim ketika meriwayatkan dalam sahihnya dari Aisyah r.a. berkata, "Pada suatu saat di larut malam Rasulullah saw. keluar dari rumahnya menuju ke Baqi' (kuburan di Madinah) dan bersabda 'Assalamu'alaikum wahai orang-orang mukmin, pasti datang apa yang dijanjikan dan ditentukan kelak, dan kami insya Allah menyusul kalian di belakang. Ya Allah, ampunilah penghuni Baqi' al-Gharqad'." (HR Muslim). Dinamakan Baqi' al-Gharqad karena di situ ada tanaman al-ghorqad, sejenis tumbuhan yang tangkainya banyak dan berduri, bisa digunakan sebagai pagar.
"Saya minta izin kepada Allah untuk memohonkan ampunan bagi ibuku. Allah tidak memberikan izin. Dan aku minta izin untuk berziarah ke kuburnya. Allah mengizinkan. Berzirahlah kalian ke kubur karena hal demikian akan mengingatkan kalian kepada mati." (HR Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah).
"Allah melaknat wanita-wanita yang selalu berziarah ke kubur." (HR Ibnu Majah, Turmuzi, Ahmad, Al-Hakim). Hadis ini ditujukan secara khusus kepada kaum wanita karena mereka berziarah bukan untuk melunakkan hati, mengingat kelemahan akal, sebagai sifat pembawaan mereka, tetapi untuk bertawasul dan meminta berkah dari penghuni kuburan sesuai dengan praktik yang berlaku. Laknat di sini berarti larangan yang merupakan peringatan keras, tetapi bukan kutukan.
Hadis tersebut diperjelas dengan hadis berikutnya, "Allah melaknat wanita-wanita yang senantiasa berziarah ke kubur dan mendirikan masjid di atasnya serta memasangi lampu-lampu." (HR Abu Dawud, Nasai, Al-Hakim, Ahmad).
Kami juga telah mengatakan bahwa duduk-duduk di atas kuburan dan salat di atasnya atau menghadap ke arahnya serta mendirikan masjid (tampat peribadatan) di atasnya, semua itu termasuk perbuatan mungkar. "Sesungguhnya umat sebelum kamu telah biasa menjadikan kuburan sebagai masjid (tempat peribadatan). Janganlah kamu jadikan kuburan itu sebagai masjid (tempat peribadatan). Saya melarangmu dari perbuatan yang demikian." (HR Muslim).
Rasulullah keluar dari rumahnya menuju kuburan. Di sana beliau mengucapkan, "Assalamu'alaikum para penghuni tempat bersemayam orang-orang mukmin, dan kita insya Allah menyusulmu kemudian." (HR Muslim, Abu Dawud).
"Allah mengutuk orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai masjid atau tempat peribadatan (dalam rangka memperingatkan untuk menjauhi apa yang mereka perbuat)." Berkata Aisyah, "kalau tidak karena itu, akan dibangun kubur Rasulullah saw., tetapi aku takut kubur itu akan dijadikan masjid (tempat peribadatan). HR Bukhari, Muslim, Ahmad).
Imam Muslim telah meriwayatkan dari Hayyan bin Husain yang diberi julukan Abi Hayyaj bahwa Ali bin Ani Thalib berkata kepada Abi Hayyaj, "Ingatlah engkau, aku beri tugas sebagaimana aku ditugaskan Rasulullah saw., yaitu agar setiap kali menjumpai patung, hendaklah Anda tumbangkan, dan setiap kali menjumpai kuburan yang ditinggikan, hendaklah Anda tarakan." (HR Muslim, Abu Dawud, Turmuzi, Nasai, dan Ahmad).
Dari sahabat Jabir, Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. melarang mengapur kuburan atau mendirikan bangunan lain di atasnya, ataupun membuat tulisan. (HR Muslim, Abu Dawud, Nasai, dan Ahmad).
Aisyah r.a. berkata, "Telah disampaikan kepada Rasulullah di saat beliau sedang sakit sebelum wafatnya, sifat dan gambar gereja di Habasyah (Ethoipia), lalu beliau mengangkat kepalanya dan bersabda, 'Mereka itu adalah kaum jika di antara mereka ada seorang yang saleh meninggal dunia, maka dibangunkan masjid (tempat peribadatan) di atas kuburnya dan dihias dengan lukisan dan patung-patung. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah'." (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad).
"Mudah-mudahan Allah memusnahkan orang-orang Yahudi yang menjadikan kuburan nabi-nabi sebagai masjid (tempat peribadatan)." (HR Bukhari, Muslim, Ahmad).
Dari sahabat Jabir r.a. bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. melarang duduk-duduk di atas kuburan dan mengapurnya atau membangun di atasnya. (HR Muslim, Abu Dawud, Turmuzi, Nasai, dan Ahmad).
"Seseorang lebih baik duduk di atas bara api hingga terbakar bajunya lalu menembus kulitnya daripada duduk di atas kubur." (HR Muslim, Abu Dawud, Nasai, dan Ibnu Majah.
"Janganlah kamu duduk-duduk di atas kubur dan jangan pula salat (menghadap) kepadanya." (HR Muslim, Abu Dawud, Turmuzi, Nasai, dan Ahmad).
Adapun yang dimaksudkan dengan duduk-duduk di atas kuburan seperti yang disebutkan dalam hadis-hadis di atas adalah duduk dengan tujuan meminta berkah, meminta kesembuhan, memohon doa, dan semacamnya. Ini jelas terlarang. Namun, jika duduk-duduk dengan tidak membaca bacaan atau niat sebagai suatu peribadatan, tetapi sekadar beristirahat sambil menanti penyelesaian pemakaman atau pada saat mendengarkan wejangan kepada hadirin, semua itu diperbolehkan, berdasarkan riwayat Al-Barra' yang mengatakan, "Kami bersama Rasulullah saw. di suatu pelayatan jenazah sampai ke kuburan hingga dimaksudkan si mayit ke liang kubur, kemudian beliau duduk, maka duduklah kami di sekitar beliau." (HR Abu Dawud). Imam Bukhari telah meriwayatkan juga apa yang menguatkan hal tersebut di atas.
Mengenai beridiri sejenak setelah pemakaman usai, lalu mendoakan si mayit agar imannya teguh, sangat dianjurkan oleh Rasulullah seperti dikatakan dalam sabdanya, "Berdoalah kemu kepada Allah untuk si mayit karena sekarang ia sedang ditanya oleh malaikat."
Membaca Alquran di atas kuburan ketika melakukan ziarah tidak termasuk syariat yang diperintahkan. Hadis-hadis yang menyangkut hal itu adalah lemah (dhaif), bahkan palsu (maudhu'). Hadis-hadis seperti itu antara lain: "Barang siapa berziarah ke makam orang tuanya atau salah satu darinya pada hari Jumat lalu membaca surah Yasin di atasnya (kuburnya), ia diampuni dosanya." (HR Ibnu Adi dalam Al-Kamil, dan Dia lemah). Juga, hadis Thabrani yang diriwayatkan Abdurrahman bin Alaa' dari Lajjaj dari ayahnya, ia mengatakan, berkata Lajjaj kepadaku, "Wahai anakku, jika aku mati, kuburlah aku. Jika engkau hendak meletakkanku dalam (ling) kubur, berucaplah: 'Bismillaah 'alaa millati rasuulillaah' kemudian timbunlah dengan tanah dan bacalah di atas kepalaku permulaan surah Al-Baqarah dan akhirnya. Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah bersabda begitu."
Adapun menyiram kuburan dengan air, hal itu diperbolehkan, berdasarkan riwayat Ibnu Majah dari Abi Rafi' yang mengatakan, "Rasulullah saw. mengangkat sambil menurunkan jenazah Saad bin Muadz ke liang kuburnya dan menyiramnya dengan air." Menurut Ahmad Salim Mahfudz (penerjemah), menurut Sunan Ibnu Majah jilid 1 hlm. 495, sesuai dengan buku Az-Zawaaid bahwa perawi hadis tersebut Mandal bin Ali lemah (dhaif) sedangkan Muhammad bin Ubaidillah bin Abi Rafi' telah disepakati atas kelemahannya.
Yang jelas terlarang dan termasuk perbuatan mungkar adalah mengadakan upacara atau perayaan dan memohon berkah di sekitar kuburan. Bersabda Rasulullah saw., "Janganlah kamu jadikan kuburku tempat perayaan, dan janganlah kamu jadikan rumah kamu seperti kuburan, berselawatlah kamu kepadaku di mana kamu berada, karena sesungguhnya selawatmu sampai kepadaku." (HR Ahmad dan Abu Dawud).
Telah disinggung, tawasul dan permohonan syafaat kepada orang-orang mati termasuk hal yang mungkar, karena perbuatan itu bukan berasal dari Rasulullah saw. dan tidak pula seorang dari khulafaurasyidin maupun dari salah seorang di antara para imam mujtahidin.
Tawasul dan syafaat itu tidak pernah dilakukan, baik kepada Nabi saw. maupun kepada lainnya, karena perbuatan tersebut termasuk mengada-ada dalam agama, dan setiap yang diada-adakan dalam agama adalah bidah. Bidah adalah tindakan menyesatkan, yang di akhirat akan diganjar dengan azab neraka. Allah SWT berfirman (yang artinya), "Janganlah kamu melampui batas dalam agamamu." (4: 171).
Demikian juga sabda Rasulullah saw., "Barang siapa yang mengada-ada dalam urusan kami yang bukan dari Islam, maka perbuatannya itu tertolak (tidak diterima)."
Tentang tawasul dan permintaan syafaat sebagai termaksud di atas telah diriwayatkan dalam banyak hadis dan atsar yang membolehkan hal itu, namun tiada satu pun yang sah, seperti:
- hadis orang buta yang diriwayatkan As-Sudi as-Shaghir al-Kadzdzab (pendusta);
- hadis tawasul Adam a.s. kepada Nabi saw.;
- hadis jika kalian mempunyai hajat, mohonlah kepada Allah dengan keudukanku;
- hadis: "Allaahumma yaa Allah, aku bermohon kepada-Mu dengan hak orang-orang yang bermohon kepada-Mu. Semua hadis itu tidak ada satu pun yang sah. Bila di antaranya terdapat yang sah, maka yang dimaksud pada hakikatnya adalah tawasul dengan amalan-amalan (yang baik) dan bukan dengan orang-orang (yang dikultuskan).
Demikian juga mengenai hadis: "Jika kalian memohon kepada Allah, maka bermohonlah kepada-Nya dengan kedudukanku, karena kedudukanku di sisi Allah besar." Hadis ini palsu. Para pendusta telah menghubung-hubungkan atau menisbatkan (fatwa yang membolehkan tawasul) pada Imam Malik, dan ini dusta belaka.
Maka, barang siapa bertawasul berharap pada rida Allah, hendaklah dilakukan melalui ketaatan menjalankan perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya, serta menjauhi semua yang dilarang dan menghindarkan diri dari mengikuti hawa nafsu lewat ibadah yang tidak diizinkan Allah.
Bernazar dengan menyembelih ternak di atas kuburan, dengan mengaitkannya dengan si mayit jelas perbuatan syirik dan kufur secara terang-terangan. Hal ini telah menjadi kesepakatan para imam. Peribadatan serupa ini sekali-kali tidak boleh dilakukan kecuali untuk Allah.
Sumber: Diadaptasi dari majalah Info Al-Irsyad, Edisi 76, Tahun ke-7, Januari 2005, artikel ini diadaptasi dari Al-Masaail ats-Tsalaats, Syekh Ahmad Soerkati al-Anshari.
Semua tingakan tersebut adalah mungkar. Sebagian darinya ada yang makruh, dan ada pula yang haram, dan sebagian lagi termasuk perbuatan syirik dan kufur sepenuhnya.
Dalam hubungan ini, kami terangkan bahwa ziarah kubur itu sunah asalkan bebas atau lepas daripada semua kemungkaran, sebagaimana yang disebutkan di atas. Nabi saw. bersabda (yang artinya), "Berziarah ke kubur dan janganlah bertutur kata yang tidak patut." (HR Ibnu Majah, Nasai, Ahmad). Artinya, janganlah bertutur yang tidak layak, seperti meratap dengan teriakan-teriakan, meminta-minta, dan sebagainya.
Hadis lainnya, "Berziarahlah ke kubur, karena kubur mengingatkan kamu kepada akhirat." (HR Ibnu Majah).
Imam Muslim ketika meriwayatkan dalam sahihnya dari Aisyah r.a. berkata, "Pada suatu saat di larut malam Rasulullah saw. keluar dari rumahnya menuju ke Baqi' (kuburan di Madinah) dan bersabda 'Assalamu'alaikum wahai orang-orang mukmin, pasti datang apa yang dijanjikan dan ditentukan kelak, dan kami insya Allah menyusul kalian di belakang. Ya Allah, ampunilah penghuni Baqi' al-Gharqad'." (HR Muslim). Dinamakan Baqi' al-Gharqad karena di situ ada tanaman al-ghorqad, sejenis tumbuhan yang tangkainya banyak dan berduri, bisa digunakan sebagai pagar.
"Saya minta izin kepada Allah untuk memohonkan ampunan bagi ibuku. Allah tidak memberikan izin. Dan aku minta izin untuk berziarah ke kuburnya. Allah mengizinkan. Berzirahlah kalian ke kubur karena hal demikian akan mengingatkan kalian kepada mati." (HR Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah).
"Allah melaknat wanita-wanita yang selalu berziarah ke kubur." (HR Ibnu Majah, Turmuzi, Ahmad, Al-Hakim). Hadis ini ditujukan secara khusus kepada kaum wanita karena mereka berziarah bukan untuk melunakkan hati, mengingat kelemahan akal, sebagai sifat pembawaan mereka, tetapi untuk bertawasul dan meminta berkah dari penghuni kuburan sesuai dengan praktik yang berlaku. Laknat di sini berarti larangan yang merupakan peringatan keras, tetapi bukan kutukan.
Hadis tersebut diperjelas dengan hadis berikutnya, "Allah melaknat wanita-wanita yang senantiasa berziarah ke kubur dan mendirikan masjid di atasnya serta memasangi lampu-lampu." (HR Abu Dawud, Nasai, Al-Hakim, Ahmad).
Kami juga telah mengatakan bahwa duduk-duduk di atas kuburan dan salat di atasnya atau menghadap ke arahnya serta mendirikan masjid (tampat peribadatan) di atasnya, semua itu termasuk perbuatan mungkar. "Sesungguhnya umat sebelum kamu telah biasa menjadikan kuburan sebagai masjid (tempat peribadatan). Janganlah kamu jadikan kuburan itu sebagai masjid (tempat peribadatan). Saya melarangmu dari perbuatan yang demikian." (HR Muslim).
Rasulullah keluar dari rumahnya menuju kuburan. Di sana beliau mengucapkan, "Assalamu'alaikum para penghuni tempat bersemayam orang-orang mukmin, dan kita insya Allah menyusulmu kemudian." (HR Muslim, Abu Dawud).
"Allah mengutuk orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai masjid atau tempat peribadatan (dalam rangka memperingatkan untuk menjauhi apa yang mereka perbuat)." Berkata Aisyah, "kalau tidak karena itu, akan dibangun kubur Rasulullah saw., tetapi aku takut kubur itu akan dijadikan masjid (tempat peribadatan). HR Bukhari, Muslim, Ahmad).
Imam Muslim telah meriwayatkan dari Hayyan bin Husain yang diberi julukan Abi Hayyaj bahwa Ali bin Ani Thalib berkata kepada Abi Hayyaj, "Ingatlah engkau, aku beri tugas sebagaimana aku ditugaskan Rasulullah saw., yaitu agar setiap kali menjumpai patung, hendaklah Anda tumbangkan, dan setiap kali menjumpai kuburan yang ditinggikan, hendaklah Anda tarakan." (HR Muslim, Abu Dawud, Turmuzi, Nasai, dan Ahmad).
Dari sahabat Jabir, Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. melarang mengapur kuburan atau mendirikan bangunan lain di atasnya, ataupun membuat tulisan. (HR Muslim, Abu Dawud, Nasai, dan Ahmad).
Aisyah r.a. berkata, "Telah disampaikan kepada Rasulullah di saat beliau sedang sakit sebelum wafatnya, sifat dan gambar gereja di Habasyah (Ethoipia), lalu beliau mengangkat kepalanya dan bersabda, 'Mereka itu adalah kaum jika di antara mereka ada seorang yang saleh meninggal dunia, maka dibangunkan masjid (tempat peribadatan) di atas kuburnya dan dihias dengan lukisan dan patung-patung. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah'." (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad).
"Mudah-mudahan Allah memusnahkan orang-orang Yahudi yang menjadikan kuburan nabi-nabi sebagai masjid (tempat peribadatan)." (HR Bukhari, Muslim, Ahmad).
Dari sahabat Jabir r.a. bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. melarang duduk-duduk di atas kuburan dan mengapurnya atau membangun di atasnya. (HR Muslim, Abu Dawud, Turmuzi, Nasai, dan Ahmad).
"Seseorang lebih baik duduk di atas bara api hingga terbakar bajunya lalu menembus kulitnya daripada duduk di atas kubur." (HR Muslim, Abu Dawud, Nasai, dan Ibnu Majah.
"Janganlah kamu duduk-duduk di atas kubur dan jangan pula salat (menghadap) kepadanya." (HR Muslim, Abu Dawud, Turmuzi, Nasai, dan Ahmad).
Adapun yang dimaksudkan dengan duduk-duduk di atas kuburan seperti yang disebutkan dalam hadis-hadis di atas adalah duduk dengan tujuan meminta berkah, meminta kesembuhan, memohon doa, dan semacamnya. Ini jelas terlarang. Namun, jika duduk-duduk dengan tidak membaca bacaan atau niat sebagai suatu peribadatan, tetapi sekadar beristirahat sambil menanti penyelesaian pemakaman atau pada saat mendengarkan wejangan kepada hadirin, semua itu diperbolehkan, berdasarkan riwayat Al-Barra' yang mengatakan, "Kami bersama Rasulullah saw. di suatu pelayatan jenazah sampai ke kuburan hingga dimaksudkan si mayit ke liang kubur, kemudian beliau duduk, maka duduklah kami di sekitar beliau." (HR Abu Dawud). Imam Bukhari telah meriwayatkan juga apa yang menguatkan hal tersebut di atas.
Mengenai beridiri sejenak setelah pemakaman usai, lalu mendoakan si mayit agar imannya teguh, sangat dianjurkan oleh Rasulullah seperti dikatakan dalam sabdanya, "Berdoalah kemu kepada Allah untuk si mayit karena sekarang ia sedang ditanya oleh malaikat."
Membaca Alquran di atas kuburan ketika melakukan ziarah tidak termasuk syariat yang diperintahkan. Hadis-hadis yang menyangkut hal itu adalah lemah (dhaif), bahkan palsu (maudhu'). Hadis-hadis seperti itu antara lain: "Barang siapa berziarah ke makam orang tuanya atau salah satu darinya pada hari Jumat lalu membaca surah Yasin di atasnya (kuburnya), ia diampuni dosanya." (HR Ibnu Adi dalam Al-Kamil, dan Dia lemah). Juga, hadis Thabrani yang diriwayatkan Abdurrahman bin Alaa' dari Lajjaj dari ayahnya, ia mengatakan, berkata Lajjaj kepadaku, "Wahai anakku, jika aku mati, kuburlah aku. Jika engkau hendak meletakkanku dalam (ling) kubur, berucaplah: 'Bismillaah 'alaa millati rasuulillaah' kemudian timbunlah dengan tanah dan bacalah di atas kepalaku permulaan surah Al-Baqarah dan akhirnya. Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah bersabda begitu."
Adapun menyiram kuburan dengan air, hal itu diperbolehkan, berdasarkan riwayat Ibnu Majah dari Abi Rafi' yang mengatakan, "Rasulullah saw. mengangkat sambil menurunkan jenazah Saad bin Muadz ke liang kuburnya dan menyiramnya dengan air." Menurut Ahmad Salim Mahfudz (penerjemah), menurut Sunan Ibnu Majah jilid 1 hlm. 495, sesuai dengan buku Az-Zawaaid bahwa perawi hadis tersebut Mandal bin Ali lemah (dhaif) sedangkan Muhammad bin Ubaidillah bin Abi Rafi' telah disepakati atas kelemahannya.
Yang jelas terlarang dan termasuk perbuatan mungkar adalah mengadakan upacara atau perayaan dan memohon berkah di sekitar kuburan. Bersabda Rasulullah saw., "Janganlah kamu jadikan kuburku tempat perayaan, dan janganlah kamu jadikan rumah kamu seperti kuburan, berselawatlah kamu kepadaku di mana kamu berada, karena sesungguhnya selawatmu sampai kepadaku." (HR Ahmad dan Abu Dawud).
Telah disinggung, tawasul dan permohonan syafaat kepada orang-orang mati termasuk hal yang mungkar, karena perbuatan itu bukan berasal dari Rasulullah saw. dan tidak pula seorang dari khulafaurasyidin maupun dari salah seorang di antara para imam mujtahidin.
Tawasul dan syafaat itu tidak pernah dilakukan, baik kepada Nabi saw. maupun kepada lainnya, karena perbuatan tersebut termasuk mengada-ada dalam agama, dan setiap yang diada-adakan dalam agama adalah bidah. Bidah adalah tindakan menyesatkan, yang di akhirat akan diganjar dengan azab neraka. Allah SWT berfirman (yang artinya), "Janganlah kamu melampui batas dalam agamamu." (4: 171).
Demikian juga sabda Rasulullah saw., "Barang siapa yang mengada-ada dalam urusan kami yang bukan dari Islam, maka perbuatannya itu tertolak (tidak diterima)."
Tentang tawasul dan permintaan syafaat sebagai termaksud di atas telah diriwayatkan dalam banyak hadis dan atsar yang membolehkan hal itu, namun tiada satu pun yang sah, seperti:
- hadis orang buta yang diriwayatkan As-Sudi as-Shaghir al-Kadzdzab (pendusta);
- hadis tawasul Adam a.s. kepada Nabi saw.;
- hadis jika kalian mempunyai hajat, mohonlah kepada Allah dengan keudukanku;
- hadis: "Allaahumma yaa Allah, aku bermohon kepada-Mu dengan hak orang-orang yang bermohon kepada-Mu. Semua hadis itu tidak ada satu pun yang sah. Bila di antaranya terdapat yang sah, maka yang dimaksud pada hakikatnya adalah tawasul dengan amalan-amalan (yang baik) dan bukan dengan orang-orang (yang dikultuskan).
Demikian juga mengenai hadis: "Jika kalian memohon kepada Allah, maka bermohonlah kepada-Nya dengan kedudukanku, karena kedudukanku di sisi Allah besar." Hadis ini palsu. Para pendusta telah menghubung-hubungkan atau menisbatkan (fatwa yang membolehkan tawasul) pada Imam Malik, dan ini dusta belaka.
Maka, barang siapa bertawasul berharap pada rida Allah, hendaklah dilakukan melalui ketaatan menjalankan perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya, serta menjauhi semua yang dilarang dan menghindarkan diri dari mengikuti hawa nafsu lewat ibadah yang tidak diizinkan Allah.
Bernazar dengan menyembelih ternak di atas kuburan, dengan mengaitkannya dengan si mayit jelas perbuatan syirik dan kufur secara terang-terangan. Hal ini telah menjadi kesepakatan para imam. Peribadatan serupa ini sekali-kali tidak boleh dilakukan kecuali untuk Allah.
Sumber: Diadaptasi dari majalah Info Al-Irsyad, Edisi 76, Tahun ke-7, Januari 2005, artikel ini diadaptasi dari Al-Masaail ats-Tsalaats, Syekh Ahmad Soerkati al-Anshari.
Label: Artikel Islam
Pada periode awal pembangunan negara ini telah terjadi perdebatan sengit antara
Dr.Sutomo dengan S.T.Alisyahbana tentang arah pembangunan negara Republik
Indonesia. Bagi yang pertama negara ini hanya dapat dibangun berdasarkan
khazanah budaya bangsa ini, sedang bagi yang kedua negara ini dapat maju hanya
dengan meniru sepenuhnya budaya Barat. Yang pertama membanggakan pendidikan
pesantren yang kedua mengagungkan pendidikan sekuler ala Barat, dengan
argumentasi masing-masing. Meskipun argumentasi Dr.Sutomo cukup kuat dan
rasional, namun pemikiran S.T.Alisyahbana sejatinya mewakili arus pemikiran para
pengambil kebijakan kependidikan saat itu. Yang menarik di sini bukan
argumentasi mereka masing-masing, tapi implikasi bahwa usaha meletakkan
pendidikan pesantren sebagai rival pendidikan sekuler Barat memang telah lama
wujud.
Memang pondok atau pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang selalu berhadapan secara vis a vis dengan pendidikan sekuler yang dibawa oleh penjajah. Bukan hanya itu, keberadaannya sejak awal telah menunjukkan anti-penjajah dan mendukung kemerdekaan negara Republik Indonesia. Tak pelak lagi ia kemudian sangat dicurigai penjajah. Anehnya setelah negara Indonesia merdeka, pesantren juga dicurigai anti pemerintah dan menjadi sarang “komando jihad”. Kini pesantren kembali dicurigai sebagai sarang teroris. Apa sebenarnya substansi pendidikan Pesantren? dan bagaimanakah ia memainkan peranannya dalam lintasan sejarah bangsa ini?
Substansi Pesantren
Hakikatnya pendidikan pesantren tidak lepas dari Islam, dan pendidikan pesantren bermula tidak lama setelah Islam masuk ke Indonesia. Alasannya sangat sederhana. Islam, sebagai agama dakwah, disebarkan secara efektif melalui proses transmisi ilmu dari ulama ke masyarakat (tarbiyah wa ta’lim, atau ta’dib). Proses ini di Indonesia berlangsung melalui pesantren. Hal ini dapat dibuktikan di antaranya dari metode pembelajaran di pesantren. Metode sam’ (audit, menyimak), metode syarh (penjelasan ulama) dengan secara halaqah, metode tahfiz (hafalan) dll, yang terdapat terdapat di pesantren berasal dari tradisi intelektual Islam.
Hanya saja istilah yang digunakan untuk sistim ini tidak sepenuhnya merujuk kepada kata bahasa Arab. Sebutan untuk pelajar yang mencari ilmu bukan murid seperti dalam tradisi sufi, atau thalib atau tilmidh seperti dalam bahasa Arab, tapi santri yang berasal dari bahasa sanskrit (san= orang baik; tra= suka menolong). Lembaga tempat belajar itupun kemudian mengikuti akar kata santri dan menjadi pe-santri-an atau “pesantren”. Di Sumatera pesantren di sebut rangkang atau meunasah atau surau. Ini menunjukkan pendekatan dakwah para ulama yang permisif terhadap tradisi lokal. Di Malaysia dan Thailand lembaga ini dikenal dengan nama pondok, merujuk kepada bahasa Arab funduk yang berarti hotel atau penginapan yang maksudnya asrama. Jadi meskipun istilah “pesantren” tidak memiliki akar kata dari tradisi Islam, tapi substansi pendidikannya tetap Islam.
Keberadaan kiai atau ulama sebagai tokoh otoritatif, peserta didik, asrama dan sarana pendidikan, pendidikan agama Islam dan masjid sebagai pusat kegiatan kependidikan adalah unsur-unsur penting pendidikan pesantren yang sejatinya adalah juga unsur pendidikan Islam. Keempat unsur yang melingkupi santri ini dapat dianggap sebagai catur-pusat pendidikan. Ini lebih lengkap dibanding tri-pusat pendidikan (sekolah, masyarakat, keluarga), yang terdapat pada sistem sekolah pada pendidikan umum.
Karakter pendidikan pesantren adalah menyeluruh. Artinya seluruh potensi pikir dan zikir, rasa dan karsa, jiwa dan raga dikembangkan melalui berbagai media pendidikan yang terbentuk dalam suatu komunitas yang sengaja didesain secara integral untuk tujuan pendidikan. Di dalam sistem sekolah pusat-pusat pendidikannya terpisah-pisah dan hampir tidak saling berhubungan. Di dalam kelas atau di masjid para santri diajar ilmu pengetahuan kognitif, dan di luar itu ia memperoleh bimbingan serta menyaksikan suri tauladan dari kiai atau gurunya serta kawan-kawannya. Jadi kehidupan di dalam pondok sudah merupakan pelajaran penting bagi santri seperti yang diajarkan oleh Islam itu sendiri. Doktrin tentang keimanan dalam teks, dilengkapi dengan pelajaran etika, ilmu, kemasyarakatan, pendidikan, dan lain-lain diluar kelas. Pengertian kurikulum bagi pendidikan pesantren tidak terbatas pada pelajaran atau kitab-kitab yang dipakai, tapi keseluruhan kegiatan di dalam asrama atau pondok.
Dengan demikian tujuan pendidikan pesantren seperti halnya tujuan kehidupan manusia didunia ini adalah ibadah, yang spektrumnya seluas pengertian ibadah itu sendiri. Dengan catur-pusat pendidikan pesantren berfungsi sebagai “melting pot”, yaitu tempat untuk mengolah potensi-potensi dalam diri santri agar dapat berproses menjadi manusia seutuhnya (insan kamil). Santri tidak hanya disipakan untuk mengejar kehidupan dunia tapi juga mempersiapkan kehidupan akhirat. Tidak hanya untuk menjadi manusia berguna bagi masyarakatnya, tapi untuk menjadi manusia seutuhnya yang taat kepada Tuhannya. Pengolahan potensi diri ini didukung oleh bangunan spiritual, sistem nilai dan jiwa kedisiplinan yang kuat yang dapat klasifikasikan sedikitnya menjadi lima, yaitu Keikhlasan, kesederhanaan, ukhuwwah Islamiyah, kemandirian dan kebebasan.
Peran pesantren
Seperti disinggung di atas wujud pesantren hampir bersamaan dengan datangnya umat Islam dinegeri ini. Karenanya peran pesantren dalam membangun negeri ini sebernarnya sama dengan peran Islam itu sendiri. Peran Islam dalam membangunkan dunia Melayu sudah terbukti secara historis. Dalam teori Prof. Naquib al-Attas tentang Islamisasi masyarakat Melayu, Islam datang dengan membawa pandangan hidup baru yang ditandai oleh munculnya semangat rasionalisme dan intelektualisme. Pandangan hidup baru ini kemudian merubah pandangan hidup bangsa Melayu-Indonesia yang sebelumnya dikuasai oleh dunia mitologi yang rapuh. (lihat al-Attas, Preliminary Statement on A general theory of the Malay-indonesian archipelago, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1969).
Menurut Snouck Hurgronje, agama Hindu tidak mempunyai peran dalam pembinaan spiritual masyarakat awam yang kebanyakan dari kasta rendah. Di Sumatera, yang pernah dikenal sebagai pusat berkumpulnya para pemikir Hindu, misalnya, pandangan hidup Hindu hampir tidak berpengaruh terhadap masyarakat waktu itu. Oleh karena itu pada masa kekuasaan kerajaan Hindu banyak anggota masyarakat yang tertarik pada pandangan hidup Islam.
Namun, pandangan hidup Islam tidak serta merta dipahami masyarakat dengan hanya membaca syahadat. Ia memerlukan proses transformasi konsep-konsep ke dalam pikiran masyarakat; dan pemahaman suatu konsep hanya effektif dilakukan melalui proses belajar mengajar. Pesantren dalam hal ini berperan aktif dalam transformasi konsep-konsep penting dalam Islam ke tengah-tengah masyarakat waktu itu. Peran Islam dalam merubah pandangan hidup yang statis kepada yang dinamis, rasional dan teratur inilah yang disebut dengan proses Islamisasi, kebalikan dari “akulturalisasi” (penyesuaian agama dengan kultur setempat).
Jadi Islam masuk ke Indonesia dan disebarkan melalui pendidikan pesantren dalam bentuk pandangan hidup, dan bukan sebagai gerakan politik seperti yang diasumsikan Prof. Sartono Kartodirdjo. Terbukti raja-raja di Jawa dan luar Jawa masuk Islam tanpa proses peperangan. Sebagai pandangan hidup Islam membawa konsep baru tentang Tuhan Yang Maha Esa, tentang manusia, tentang hidup, waktu, dunia dan akherat, bermasyarakat, keadilan, harta dan lain-lain.
Dengan pandangan hidup Islam masyarakat lalu mengembangkan semangat pembebasan dan perlawanan terhadap penjajah. Pemberontakan petani di Banten tahun 1888, atau perang masyarakat Aceh melawan Belanda tahun 1873, misalnya, tidak lepas dari peran kaum santri dan pesantren. Jadi Islam tidak dapat dipahami hanya sebagai gerakan politik, tapi sebagai suatu pandangan hidup yang memberi warna baru terhadap gerakan politik.
Peran pandangan hidup Islam terhadap bangkitnya bangsa Melayu dapat dilihat dari fenomena tersebarnya kultur Islam dan tersebarnya penggunaan bahasa Melayu sebagai alat untuk mengekspresikan karya sastra dan berbagai diskursus pemikiran kegamaan dan filsafat. Dengan merasuknya pandangan hidup Islam kedalam kultur Melayu, maka bahasa Melayu menjadi sangat kaya dengan kosa kata dan terminologi Islam. Ini juga sekaligus merupakan jembatan menuju lahirnya bahasa Melayu sebagai lingua franca.
Selain itu dengan gerakan hijrah ke pelosok-pelosok pedesaan, pesantren mengembangkan masyarakat Muslim yang solid, yang pada gilirannya berperan sebagai kubu pertahanan rakyat dalam melawan penjajah. Peran para kiai dalam melawan penjajah tidak perlu dipertanyakan lagi. Raffles sendiri dalam bukunya The History of Java mengakui bahaya para kiai terhadap kepentingan Belanda. Sebab, menurutnya, banyak sekali kiai yang aktif dalam berbagai pemberontakan.
Bahkan besarnya pengaruh kiai tidak hanya terbatas pada masyarakat awam, tapi juga menjangkau istana-istana. Kiai Hasan Besari, dari pesantren Tegalsari Ponorogo, misalnya berperan besar dalam meleraikan pemberontakan di Keraton Kartasura. Bukan hanya itu, pesantren dulu juga mampu melahirkan pujangga. Raden Ngabehi Ronggowarsito adalah santri Kiai Hasan Besari yang berhasil menjadi Pujangga Jawa terkenal.
Di zaman pergerakan pra-kemerdekaan, peran pesantren juga sangat menonjol, lagi-lagi melalui alumninya. HOS Cokroaminoto pendiri gerakan Syarikat Islam dan guru pertama Soekarno di Surabaya, adalah juga alumni pesantren. KH. Mas Mansur, KH.Hasyim Ash’ari, KH. Ahmad Dahlan, Ki Bagus Hadikusumo, KH.Kahar Muzakkir, (untuk menyebut beberapa nama) adalah alumni pesantren yang menjadi tokoh masyarakat yang sangat berpengaruh. Di tengah masyarakat mereka adalah guru bangsa, tempat merujuk segala persoalan di masyarakat. Di tengah percaturan politik menjelang kemerdekaan Republik Indonesia peran mereka tidak diragukan lagi.
Ketika Jepang memobilisir tentara PETA (Pembela Tanah Air) guna melawan Belanda, para kiai dan santri mendirikan tentara Hizbullah. Di balik itu dalam pikiran mereka adalah kosep jihad melawan kezaliman, konsep ukhuwwah untuk membela sesama saudara seagama dan konsep kebebasan yang menolak segala bentuk penindasan. Itu semua tidak lepas dari pengaruh pandangan hidup Islam.
Sesudah kemerdekaan, alumni-alumni pesantren terus memainkan perannya dalam mengisi kemerdekaan. Moh. Rasyidi, alumni pondok Jamsaren adalah Menteri Agama RI pertama, Mohammad Natsir alumni pesantren Persis, menjadi Perdana Menteri, KH.Wahid Hasyim, alumni pondok Tebuireng, KH.Kahar Muzakkir dan lain-lain menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan; KH.Muslih Purwokerto dan KH. Imam Zarkasyi alumni Jamsaren menjadi anggota Dewan Perancang Nasional; KH. Idham Khalid menjadi wakil Perdana Menteri dan ketua MPRS. Singkatnya, di awal-awal kemerdekaan RI para kiai dan alumni pesantren berpatisipasi hampir di setiap lini perjuangan bangsa. Perlu dicatat bahwa jabatan-jabatan itu bukan diraih untuk tujuan politik sesaat, tapi untuk sarana membela dan memperjuangkan agama, negara dan bangsa.
Di era Orde Baru di tengah maraknya pembangunan fisik yang disertai dengan proses marginalisasi peran politik ummat Islam, kiai dan pesantren tetap memiliki perannya dalam membangun bangsa. Dampak pembangunan fisik yang tidak berangkat konsep character building adalah dekadensi moral, korupsi, tindak kekerasan dan lain-lain. Akibatnya pendidikan, khususnya sistem sekolah di kota-kota besar tidak lagi menjanjikan kesalehan moral dan sosial anak didik. Dalam kondisi seperti inilah pesantren muncul menjadi sebagai alternatif penting. Dengan jiwa ukhuwwah Islamiyah di pesantren tidak pernah terjadi “tawuran”; dan karena jiwa kemandirian di pesantren tidak sedikit dari santri drop out justru sukses sebagai pengusaha.
Ketika terjadi upaya convergensi ilmu pengetahuan agama dan umum di pesantren, medan distribusi alumni pesantren menjadi semakin luas. Penyeberangan santri ke perguruan tinggi umum menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Para santri ini kemudian mengembangkan kajian-kajian agama secara informal dan intensif yang melibatkan mahasiswa-mahasiswa yang tidak memilik background agama. Kini peran pesantren tidak lagi langsung dimainkan oleh alumninya, tapi oleh murid-murid alumninya. Pergerakan mahasiswa seperti HMI, PMII, IMM yang marak pada dekade 70-an dan 80-an, dan juga gerakan LDK, usrah-usrah dan intensifikasi aktifitas masjid kampus dan lain-lain tidak dapat dipisahkan dari peran dan kontribusi alumni-alumni pesantren.
Kini di zaman reformasi telah muncul sejumlah nama tokoh yang tidak lepas dari peran pendidikan pesantren, baik langsung maupun tidak langsung. Amien Rais, ketua MPR, Abdurrahman Wahid, pendiri PKB, Hidayat Nur Wahid, Presiden PKS, Hasyim Muzadi, Ketua PB NU, Nurcholis Madjid, Rektor Paramadina, adalah beberapa nama tokoh yang tidak lepas dari dunia pesantren. Hal ini tidak saja menunjukkan kualitas pendidikan pesantren dalam mencetak pemimpin dan tokoh-tokoh bangsa tapi membuktikan besarnya kepedulian santri terhadap problematika bangsa ini.
Jika kini beberapa gelintir alumni pesantren dituduh terlibat dalam berbagai aksi yang dianggap ‘terror’, maka sangat absurd jika kemudian peran dan potensi pesantren dalam membangun bangsa ini, baik di masa lalu maupu di masa depan, dinafikan. Semestinya kini tidak perlu lagi mempertanyakan apa peran dan fungsi pesantren dalam membangun negara ini, yang justru perlu dipertanyakan adalah apa yang telah dilakukan pemerintah dalam membangun pesantren dan apa yang belum. Hasil kalkulasi inilah hutang bangsa ini pada pesantren. Wallahu a’lam.
Penulis Peneliti di Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSIST)
Memang pondok atau pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang selalu berhadapan secara vis a vis dengan pendidikan sekuler yang dibawa oleh penjajah. Bukan hanya itu, keberadaannya sejak awal telah menunjukkan anti-penjajah dan mendukung kemerdekaan negara Republik Indonesia. Tak pelak lagi ia kemudian sangat dicurigai penjajah. Anehnya setelah negara Indonesia merdeka, pesantren juga dicurigai anti pemerintah dan menjadi sarang “komando jihad”. Kini pesantren kembali dicurigai sebagai sarang teroris. Apa sebenarnya substansi pendidikan Pesantren? dan bagaimanakah ia memainkan peranannya dalam lintasan sejarah bangsa ini?
Substansi Pesantren
Hakikatnya pendidikan pesantren tidak lepas dari Islam, dan pendidikan pesantren bermula tidak lama setelah Islam masuk ke Indonesia. Alasannya sangat sederhana. Islam, sebagai agama dakwah, disebarkan secara efektif melalui proses transmisi ilmu dari ulama ke masyarakat (tarbiyah wa ta’lim, atau ta’dib). Proses ini di Indonesia berlangsung melalui pesantren. Hal ini dapat dibuktikan di antaranya dari metode pembelajaran di pesantren. Metode sam’ (audit, menyimak), metode syarh (penjelasan ulama) dengan secara halaqah, metode tahfiz (hafalan) dll, yang terdapat terdapat di pesantren berasal dari tradisi intelektual Islam.
Hanya saja istilah yang digunakan untuk sistim ini tidak sepenuhnya merujuk kepada kata bahasa Arab. Sebutan untuk pelajar yang mencari ilmu bukan murid seperti dalam tradisi sufi, atau thalib atau tilmidh seperti dalam bahasa Arab, tapi santri yang berasal dari bahasa sanskrit (san= orang baik; tra= suka menolong). Lembaga tempat belajar itupun kemudian mengikuti akar kata santri dan menjadi pe-santri-an atau “pesantren”. Di Sumatera pesantren di sebut rangkang atau meunasah atau surau. Ini menunjukkan pendekatan dakwah para ulama yang permisif terhadap tradisi lokal. Di Malaysia dan Thailand lembaga ini dikenal dengan nama pondok, merujuk kepada bahasa Arab funduk yang berarti hotel atau penginapan yang maksudnya asrama. Jadi meskipun istilah “pesantren” tidak memiliki akar kata dari tradisi Islam, tapi substansi pendidikannya tetap Islam.
Keberadaan kiai atau ulama sebagai tokoh otoritatif, peserta didik, asrama dan sarana pendidikan, pendidikan agama Islam dan masjid sebagai pusat kegiatan kependidikan adalah unsur-unsur penting pendidikan pesantren yang sejatinya adalah juga unsur pendidikan Islam. Keempat unsur yang melingkupi santri ini dapat dianggap sebagai catur-pusat pendidikan. Ini lebih lengkap dibanding tri-pusat pendidikan (sekolah, masyarakat, keluarga), yang terdapat pada sistem sekolah pada pendidikan umum.
Karakter pendidikan pesantren adalah menyeluruh. Artinya seluruh potensi pikir dan zikir, rasa dan karsa, jiwa dan raga dikembangkan melalui berbagai media pendidikan yang terbentuk dalam suatu komunitas yang sengaja didesain secara integral untuk tujuan pendidikan. Di dalam sistem sekolah pusat-pusat pendidikannya terpisah-pisah dan hampir tidak saling berhubungan. Di dalam kelas atau di masjid para santri diajar ilmu pengetahuan kognitif, dan di luar itu ia memperoleh bimbingan serta menyaksikan suri tauladan dari kiai atau gurunya serta kawan-kawannya. Jadi kehidupan di dalam pondok sudah merupakan pelajaran penting bagi santri seperti yang diajarkan oleh Islam itu sendiri. Doktrin tentang keimanan dalam teks, dilengkapi dengan pelajaran etika, ilmu, kemasyarakatan, pendidikan, dan lain-lain diluar kelas. Pengertian kurikulum bagi pendidikan pesantren tidak terbatas pada pelajaran atau kitab-kitab yang dipakai, tapi keseluruhan kegiatan di dalam asrama atau pondok.
Dengan demikian tujuan pendidikan pesantren seperti halnya tujuan kehidupan manusia didunia ini adalah ibadah, yang spektrumnya seluas pengertian ibadah itu sendiri. Dengan catur-pusat pendidikan pesantren berfungsi sebagai “melting pot”, yaitu tempat untuk mengolah potensi-potensi dalam diri santri agar dapat berproses menjadi manusia seutuhnya (insan kamil). Santri tidak hanya disipakan untuk mengejar kehidupan dunia tapi juga mempersiapkan kehidupan akhirat. Tidak hanya untuk menjadi manusia berguna bagi masyarakatnya, tapi untuk menjadi manusia seutuhnya yang taat kepada Tuhannya. Pengolahan potensi diri ini didukung oleh bangunan spiritual, sistem nilai dan jiwa kedisiplinan yang kuat yang dapat klasifikasikan sedikitnya menjadi lima, yaitu Keikhlasan, kesederhanaan, ukhuwwah Islamiyah, kemandirian dan kebebasan.
Peran pesantren
Seperti disinggung di atas wujud pesantren hampir bersamaan dengan datangnya umat Islam dinegeri ini. Karenanya peran pesantren dalam membangun negeri ini sebernarnya sama dengan peran Islam itu sendiri. Peran Islam dalam membangunkan dunia Melayu sudah terbukti secara historis. Dalam teori Prof. Naquib al-Attas tentang Islamisasi masyarakat Melayu, Islam datang dengan membawa pandangan hidup baru yang ditandai oleh munculnya semangat rasionalisme dan intelektualisme. Pandangan hidup baru ini kemudian merubah pandangan hidup bangsa Melayu-Indonesia yang sebelumnya dikuasai oleh dunia mitologi yang rapuh. (lihat al-Attas, Preliminary Statement on A general theory of the Malay-indonesian archipelago, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1969).
Menurut Snouck Hurgronje, agama Hindu tidak mempunyai peran dalam pembinaan spiritual masyarakat awam yang kebanyakan dari kasta rendah. Di Sumatera, yang pernah dikenal sebagai pusat berkumpulnya para pemikir Hindu, misalnya, pandangan hidup Hindu hampir tidak berpengaruh terhadap masyarakat waktu itu. Oleh karena itu pada masa kekuasaan kerajaan Hindu banyak anggota masyarakat yang tertarik pada pandangan hidup Islam.
Namun, pandangan hidup Islam tidak serta merta dipahami masyarakat dengan hanya membaca syahadat. Ia memerlukan proses transformasi konsep-konsep ke dalam pikiran masyarakat; dan pemahaman suatu konsep hanya effektif dilakukan melalui proses belajar mengajar. Pesantren dalam hal ini berperan aktif dalam transformasi konsep-konsep penting dalam Islam ke tengah-tengah masyarakat waktu itu. Peran Islam dalam merubah pandangan hidup yang statis kepada yang dinamis, rasional dan teratur inilah yang disebut dengan proses Islamisasi, kebalikan dari “akulturalisasi” (penyesuaian agama dengan kultur setempat).
Jadi Islam masuk ke Indonesia dan disebarkan melalui pendidikan pesantren dalam bentuk pandangan hidup, dan bukan sebagai gerakan politik seperti yang diasumsikan Prof. Sartono Kartodirdjo. Terbukti raja-raja di Jawa dan luar Jawa masuk Islam tanpa proses peperangan. Sebagai pandangan hidup Islam membawa konsep baru tentang Tuhan Yang Maha Esa, tentang manusia, tentang hidup, waktu, dunia dan akherat, bermasyarakat, keadilan, harta dan lain-lain.
Dengan pandangan hidup Islam masyarakat lalu mengembangkan semangat pembebasan dan perlawanan terhadap penjajah. Pemberontakan petani di Banten tahun 1888, atau perang masyarakat Aceh melawan Belanda tahun 1873, misalnya, tidak lepas dari peran kaum santri dan pesantren. Jadi Islam tidak dapat dipahami hanya sebagai gerakan politik, tapi sebagai suatu pandangan hidup yang memberi warna baru terhadap gerakan politik.
Peran pandangan hidup Islam terhadap bangkitnya bangsa Melayu dapat dilihat dari fenomena tersebarnya kultur Islam dan tersebarnya penggunaan bahasa Melayu sebagai alat untuk mengekspresikan karya sastra dan berbagai diskursus pemikiran kegamaan dan filsafat. Dengan merasuknya pandangan hidup Islam kedalam kultur Melayu, maka bahasa Melayu menjadi sangat kaya dengan kosa kata dan terminologi Islam. Ini juga sekaligus merupakan jembatan menuju lahirnya bahasa Melayu sebagai lingua franca.
Selain itu dengan gerakan hijrah ke pelosok-pelosok pedesaan, pesantren mengembangkan masyarakat Muslim yang solid, yang pada gilirannya berperan sebagai kubu pertahanan rakyat dalam melawan penjajah. Peran para kiai dalam melawan penjajah tidak perlu dipertanyakan lagi. Raffles sendiri dalam bukunya The History of Java mengakui bahaya para kiai terhadap kepentingan Belanda. Sebab, menurutnya, banyak sekali kiai yang aktif dalam berbagai pemberontakan.
Bahkan besarnya pengaruh kiai tidak hanya terbatas pada masyarakat awam, tapi juga menjangkau istana-istana. Kiai Hasan Besari, dari pesantren Tegalsari Ponorogo, misalnya berperan besar dalam meleraikan pemberontakan di Keraton Kartasura. Bukan hanya itu, pesantren dulu juga mampu melahirkan pujangga. Raden Ngabehi Ronggowarsito adalah santri Kiai Hasan Besari yang berhasil menjadi Pujangga Jawa terkenal.
Di zaman pergerakan pra-kemerdekaan, peran pesantren juga sangat menonjol, lagi-lagi melalui alumninya. HOS Cokroaminoto pendiri gerakan Syarikat Islam dan guru pertama Soekarno di Surabaya, adalah juga alumni pesantren. KH. Mas Mansur, KH.Hasyim Ash’ari, KH. Ahmad Dahlan, Ki Bagus Hadikusumo, KH.Kahar Muzakkir, (untuk menyebut beberapa nama) adalah alumni pesantren yang menjadi tokoh masyarakat yang sangat berpengaruh. Di tengah masyarakat mereka adalah guru bangsa, tempat merujuk segala persoalan di masyarakat. Di tengah percaturan politik menjelang kemerdekaan Republik Indonesia peran mereka tidak diragukan lagi.
Ketika Jepang memobilisir tentara PETA (Pembela Tanah Air) guna melawan Belanda, para kiai dan santri mendirikan tentara Hizbullah. Di balik itu dalam pikiran mereka adalah kosep jihad melawan kezaliman, konsep ukhuwwah untuk membela sesama saudara seagama dan konsep kebebasan yang menolak segala bentuk penindasan. Itu semua tidak lepas dari pengaruh pandangan hidup Islam.
Sesudah kemerdekaan, alumni-alumni pesantren terus memainkan perannya dalam mengisi kemerdekaan. Moh. Rasyidi, alumni pondok Jamsaren adalah Menteri Agama RI pertama, Mohammad Natsir alumni pesantren Persis, menjadi Perdana Menteri, KH.Wahid Hasyim, alumni pondok Tebuireng, KH.Kahar Muzakkir dan lain-lain menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan; KH.Muslih Purwokerto dan KH. Imam Zarkasyi alumni Jamsaren menjadi anggota Dewan Perancang Nasional; KH. Idham Khalid menjadi wakil Perdana Menteri dan ketua MPRS. Singkatnya, di awal-awal kemerdekaan RI para kiai dan alumni pesantren berpatisipasi hampir di setiap lini perjuangan bangsa. Perlu dicatat bahwa jabatan-jabatan itu bukan diraih untuk tujuan politik sesaat, tapi untuk sarana membela dan memperjuangkan agama, negara dan bangsa.
Di era Orde Baru di tengah maraknya pembangunan fisik yang disertai dengan proses marginalisasi peran politik ummat Islam, kiai dan pesantren tetap memiliki perannya dalam membangun bangsa. Dampak pembangunan fisik yang tidak berangkat konsep character building adalah dekadensi moral, korupsi, tindak kekerasan dan lain-lain. Akibatnya pendidikan, khususnya sistem sekolah di kota-kota besar tidak lagi menjanjikan kesalehan moral dan sosial anak didik. Dalam kondisi seperti inilah pesantren muncul menjadi sebagai alternatif penting. Dengan jiwa ukhuwwah Islamiyah di pesantren tidak pernah terjadi “tawuran”; dan karena jiwa kemandirian di pesantren tidak sedikit dari santri drop out justru sukses sebagai pengusaha.
Ketika terjadi upaya convergensi ilmu pengetahuan agama dan umum di pesantren, medan distribusi alumni pesantren menjadi semakin luas. Penyeberangan santri ke perguruan tinggi umum menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Para santri ini kemudian mengembangkan kajian-kajian agama secara informal dan intensif yang melibatkan mahasiswa-mahasiswa yang tidak memilik background agama. Kini peran pesantren tidak lagi langsung dimainkan oleh alumninya, tapi oleh murid-murid alumninya. Pergerakan mahasiswa seperti HMI, PMII, IMM yang marak pada dekade 70-an dan 80-an, dan juga gerakan LDK, usrah-usrah dan intensifikasi aktifitas masjid kampus dan lain-lain tidak dapat dipisahkan dari peran dan kontribusi alumni-alumni pesantren.
Kini di zaman reformasi telah muncul sejumlah nama tokoh yang tidak lepas dari peran pendidikan pesantren, baik langsung maupun tidak langsung. Amien Rais, ketua MPR, Abdurrahman Wahid, pendiri PKB, Hidayat Nur Wahid, Presiden PKS, Hasyim Muzadi, Ketua PB NU, Nurcholis Madjid, Rektor Paramadina, adalah beberapa nama tokoh yang tidak lepas dari dunia pesantren. Hal ini tidak saja menunjukkan kualitas pendidikan pesantren dalam mencetak pemimpin dan tokoh-tokoh bangsa tapi membuktikan besarnya kepedulian santri terhadap problematika bangsa ini.
Jika kini beberapa gelintir alumni pesantren dituduh terlibat dalam berbagai aksi yang dianggap ‘terror’, maka sangat absurd jika kemudian peran dan potensi pesantren dalam membangun bangsa ini, baik di masa lalu maupu di masa depan, dinafikan. Semestinya kini tidak perlu lagi mempertanyakan apa peran dan fungsi pesantren dalam membangun negara ini, yang justru perlu dipertanyakan adalah apa yang telah dilakukan pemerintah dalam membangun pesantren dan apa yang belum. Hasil kalkulasi inilah hutang bangsa ini pada pesantren. Wallahu a’lam.
Penulis Peneliti di Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSIST)
Label: Artikel Islam
;;
Subscribe to:
Posts (Atom)


